• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • IT Center
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Posisi
    • Keunggulan
    • Struktur Organisasi
    • Layanan dan Fasilitas
    • Kehidupan Kampus
    • Kontak
  • PPID
    • Informasi Publik
      • Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan secara Berkala
      • Informasi Tersedia Setiap Saat
      • Daftar Informasi Dikecualikan
    • Layanan Informasi
      • Alur dan Prosedur Permohonan Informasi
      • Alur dan Prosedur Pengajuan Keberatan atas Informasi
      • Prosedur dan Tatacara Penyelesaian Sengketa
      • Maklumat Pelayanan Informasi Publik
  • Akademik
    • Pengumuman
    • Dokumen Akademik
    • Kalender Akademik
  • Admisi
    • Program Studi
    • Beasiswa
    • Syarat Pendaftaran
    • Prosedur Pendaftaran
    • Biaya Pendidikan (UKT)
    • Registrasi
  • Kegiatan
    • Agenda
    • Berita
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Survei Layanan
  • Beranda
  • Berita
  • Minim Regenerasi, Seni Ritual Srandul Sunti Hadapi Ancaman Kepunahan

Minim Regenerasi, Seni Ritual Srandul Sunti Hadapi Ancaman Kepunahan

  • Berita
  • 8 April 2026, 09.10
  • Oleh: pudji_w
  • 0

Yogyakarta, 31 Maret 2026 — Program Studi Magister Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), kembali memperoleh Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana (SPs) tahun 2025. Penelitian ini mengangkat tema “Srandul Sunti: Merengkuh Nazar, Memeluk Tradisi” dengan fokus kajian pada keberlangsungan seni tradisional rakyat di lereng Gunung Sumbing, Magelang.

Penelitian ini diketuai oleh Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, M.Hum., dengan anggota Dr. G.R. Lono Simatupang, M.A., Dr. Tri Mastoyo, M.Hum., dan Heni Siswantari, M.A. Tim peneliti mengeksplorasi praktik kesenian Srandul Sunti sebagai bentuk seni rakyat yang memiliki keterkaitan erat dengan nilai nazar, kesakralan ruang domestik, serta hubungan spiritual antara penanggap dan pelaku seni.

Kesenian Srandul Sunti secara konsisten dipentaskan di ruang rumah dengan menggunakan penerangan tradisional berupa oncor. Praktik ini menghadirkan atmosfer ritual yang intim, sederhana, namun sarat makna simbolik. Melalui pendekatan etnografi dan analisis performativitas, tim peneliti menemukan bahwa kesenian ini menghadapi persoalan serius, terutama dalam aspek transmisi budaya.

Seluruh pelaku seni Srandul Sunti saat ini berusia di atas 50 tahun, tanpa keterlibatan generasi muda. Minimnya regenerasi disebabkan oleh anggapan masyarakat bahwa kesenian ini merupakan “ranah simbah-simbah”, persepsi bahwa pertunjukan ini berat, serta pergeseran minat generasi muda ke bentuk seni populer seperti kuda lumping, topeng ireng, dan gedrug.

Kondisi tersebut menunjukkan lemahnya faktor keberlanjutan, khususnya pada aspek pewarisan, motivasi belajar, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan sosial dan budaya. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun Srandul Sunti memiliki nilai historis, religius, dan sosial yang penting bagi komunitas, kesenian ini berada pada titik rawan menuju kepunahan.

Keberadaan para pelaku senior sebagai “gudang pengetahuan” menjadi penopang utama yang hingga kini menjaga praktik kesenian tersebut tetap bertahan. Namun, tanpa upaya transmisi yang terencana dan strategis, keberlanjutan Srandul Sunti dikhawatirkan semakin terancam. “Srandul Sunti bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang perjumpaan antara tradisi, keyakinan, dan identitas komunitas yang perlu dijaga bersama,” ujar Ketua Peneliti, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik sekaligus rekomendasi praktis bagi upaya pelestarian kesenian ritual di wilayah pedesaan Jawa, serta memperkuat kesadaran pentingnya keberlanjutan budaya lokal.

Penelitian Hibah SPs 2025 ini juga memiliki keterkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pendidikan budaya dan pewarisan pengetahuan lokal, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pelestarian identitas budaya dan praktik seni komunitas, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara akademisi, komunitas lokal, dan lembaga pendidikan dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi.

Sumber: Paramitha D Fitriasari

Editor: Asti Rahmaningrum

Foto: Paramitha D Fitriasari

Tags: SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Recent Posts

  • Koordinasi Akademik Program Studi Doktor Kependudukan SPs UGM, Bahas Strategi Pendidikan Berkelanjutan
  • Kolaborasi Lintas Profesi Mahasiswa UGM di Sleman: Edukasi Kesehatan dan Kesiapsiagaan Bencana bagi Masyarakat
  • Wisudawan Sekolah Pascasarjana UGM Dikukuhkan, 136 Lulusan Torehkan Beragam Capaian Unggul
  • Workshop Kurikulum Prodi Doktor dan Magister Kajian Pariwisata UGM: Menyongsong Kurikulum 2026 yang Adaptif dan Relevan
  • Sekolah Pascasarjana UGM Gelar Sosialisasi SAPTO 2.0, Perkuat Kesiapan Akreditasi Program Studi
Universitas Gadjah Mada
Sekolah Pascasarjana
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (0274) 544975, 564239
Email : sps@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju