Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pengenalan SAPTO 2.0 sebagai langkah strategis dalam mempersiapkan program studi menghadapi skema baru pengajuan akreditasi melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 23 April 2026, bertempat di Ruang Sidang A Lantai 5 Sekolah Pascasarjana UGM.
Sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai unsur penting di lingkungan Sekolah Pascasarjana, mulai dari pimpinan, koordinator penjaminan mutu, ketua program studi dan minat studi, hingga pengelola layanan akademik. Keterlibatan multipihak tersebut menunjukkan keseriusan institusi dalam memastikan kesiapan seluruh unit dalam mengadopsi sistem baru yang lebih terintegrasi dan berbasis digital.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pimpinan Sekolah Pascasarjana, dilanjutkan dengan pengantar dari Koordinator Unit Penjaminan Mutu dan Data Akademik yang menekankan pentingnya kesiapan institusi dalam merespons perubahan mekanisme akreditasi. Selanjutnya, sesi utama diisi oleh pemaparan materi sosialisasi oleh Prof. Dr. Laurentius Hartanto Nugroho, M.Agr. dan Akio Putra Perdana, yang menjelaskan secara komprehensif skema pengajuan akreditasi melalui SAPTO 2.0, termasuk alur sistem, fitur baru, serta penyesuaian yang perlu dilakukan oleh program studi.
Salah satu poin krusial yang disampaikan dalam sosialisasi ini adalah bahwa SAPTO 2.0 akan terintegrasi langsung dengan sistem data pendidikan tinggi nasional, yaitu Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Integrasi ini menandai pergeseran signifikan dalam proses akreditasi, di mana data yang digunakan tidak lagi sepenuhnya berbasis input manual, melainkan bersumber dari data yang telah terekam dalam sistem nasional. Dengan demikian, akurasi, konsistensi, dan kelengkapan data pada PDDIKTI menjadi faktor yang sangat menentukan dalam proses penilaian akreditasi.
Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa SAPTO 2.0 bukan sekadar pembaruan sistem teknis, melainkan bagian dari transformasi tata kelola akreditasi yang menuntut kesiapan data, ketelitian pengisian, serta konsistensi antara dokumen dan praktik di lapangan. Dengan sistem yang semakin terintegrasi, setiap program studi dituntut untuk memiliki tata kelola data yang baik, terdokumentasi secara sistematis, serta selaras dengan implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).
Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung aktif, di mana peserta menggali berbagai aspek teknis maupun substantif terkait implementasi SAPTO 2.0. Pertanyaan yang muncul tidak hanya berkisar pada penggunaan sistem, tetapi juga pada strategi sinkronisasi data dengan PDDIKTI, kesiapan dokumen, serta upaya menjaga konsistensi antara data sistem dan kondisi riil di program studi.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian rencana tindak lanjut yang menegaskan komitmen Sekolah Pascasarjana untuk terus mendampingi program studi dalam proses adaptasi terhadap SAPTO 2.0. Pendampingan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan institusi dalam menghadapi siklus akreditasi ke depan secara lebih sistematis, terstruktur, dan berbasis data.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Sekolah Pascasarjana UGM menegaskan bahwa transformasi sistem akreditasi harus diiringi dengan penguatan budaya mutu dan tata kelola data. Integrasi SAPTO 2.0 dengan PDDIKTI tidak hanya meningkatkan efisiensi proses, tetapi juga menuntut akuntabilitas yang lebih tinggi, sehingga kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi dapat tercermin secara utuh dan terukur.
Penulis: Burhanul Aqil





