• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • IT Center
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Posisi
    • Keunggulan
    • Struktur Organisasi
    • Layanan dan Fasilitas
    • Kehidupan Kampus
    • Kontak
  • PPID
    • Informasi Publik
      • Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan secara Berkala
      • Informasi Tersedia Setiap Saat
      • Daftar Informasi Dikecualikan
    • Layanan Informasi
      • Alur dan Prosedur Permohonan Informasi
      • Alur dan Prosedur Pengajuan Keberatan atas Informasi
      • Prosedur dan Tatacara Penyelesaian Sengketa
      • Maklumat Pelayanan Informasi Publik
  • Akademik
    • Pengumuman
    • Dokumen Akademik
    • Kalender Akademik
  • Admisi
    • Program Studi
    • Beasiswa
    • Syarat Pendaftaran
    • Prosedur Pendaftaran
    • Biaya Pendidikan (UKT)
    • Registrasi
  • Kegiatan
    • Agenda
    • Berita
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Survei Layanan
  • Beranda
  • Berita
  • Mahasiswa Magister Agama dan Lintas Budaya Belajar dari Masyarakat di Wonosobo dan Dieng

Mahasiswa Magister Agama dan Lintas Budaya Belajar dari Masyarakat di Wonosobo dan Dieng

  • Berita
  • 31 Agustus 2026, 09.43
  • Oleh: pudji_w
  • 0

Program Studi Magister Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan kegiatan Field Trip ke Wonosobo dan Dieng pada 23–24 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 16 mahasiswa angkatan 2024 Semester 2 serta didampingi oleh Dr. Zainal Abidin Bagir, Dr. Samsul Maarif, Dr. Mark Woodward, dan Dr. Najiyah Martiam.

Field Trip menjadi bagian dari pengayaan pembelajaran pada tiga mata kuliah, yakni Religion and Social Movement, Religion and Ecology, serta Environmental Ethics. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak menghubungkan konsep dan teori yang diperoleh di ruang kelas dengan berbagai persoalan sosial, keagamaan, pertanian, dan lingkungan yang dihadapi masyarakat secara langsung.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Kamis, 23 Juli 2026 dengan kunjungan ke Universitas Sains Al-Qur’an. kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Kampung Ilmu untuk berdiskusi bersama Farid Gaban mengenai pertanian dan gerakan masyarakat. Pada kesempatan ini mahasiswa juga mengikuti seminar bertema “Problem Lingkungan Indonesia dan Wonosobo: Bagaimana Institusi Agama Bisa Berperan?” serta mengunjungi greenhouse dan berdiskusi mengenai praktik pertanian yang memadukan local knowledge dengan teknologi modern.

Pada Jumat, 24 Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke kawasan geothermal di Bedakah dan diskusi bersama komunitas masyarakat di Perpustakaan Rakjat mengenai gerakan masyarakat dan dampak pengembangan geothermal terhadap kehidupan warga dan lingkungan.

Bagi mahasiswa, perjumpaan langsung dengan masyarakat menjadi salah satu pengalaman paling berkesan. Elly ‘Muizatilah mengatakan bahwa kunjungan dan diskusi mengenai pertanian 4.0 serta pertemuan dengan komunitas yang terdampak geothermal membuatnya melihat secara lebih nyata persoalan yang selama ini dipelajari melalui bacaan dan diskusi kelas.

“Beyond the theory, mungkin itu salah satu kalimat yang bisa mendeskripsikan field trip ini,” ungkap Elly. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami bagaimana materi yang dipelajari di kelas diimplementasikan dalam kehidupan nyata sekaligus merasakan pengalaman dan perspektif masyarakat secara langsung.

Kesan serupa disampaikan Natasya Nikita Napitupulu. Kunjungan ke kawasan geothermal dan pertemuan dengan warga terdampak membuatnya dapat melihat secara langsung realitas yang sebelumnya hanya ia pahami melalui diskusi dan bacaan. Interaksi dengan warga dan aktivis memperkuat pemahamannya mengenai dampak lingkungan serta perjuangan masyarakat mempertahankan ruang hidup mereka.

Sementara itu, Marsekal Gembon menilai terdapat dua pengalaman penting selama field trip, yakni pertemuan dengan Farid Gaban mengenai perjuangan petani mengembangkan pertanian ramah lingkungan dan diskusi dengan komunitas warga di Dieng mengenai upaya mempertahankan ruang hidup, mata air, serta tanah bagi generasi mendatang.

Menurut Marsekal, field trip tersebut bukan sekadar wisata akademik, melainkan “ruang belajar yang hidup”. Mahasiswa dapat menyaksikan bagaimana gerakan akar rumput tumbuh dari kesadaran kolektif dan kepedulian terhadap masa depan. Ia juga melihat bahwa isu pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan budaya, ekonomi, dan kelestarian lingkungan.

Penulis: Asti Rahmaningrum

Tags: SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Recent Posts

  • MPRK UGM Gelar Sesi Pertama Pelatihan Guru Agen Perdamaian di SMAN 1 Wonosari
  • Dari Ponorogo ke Tokyo, Mahasiswa SPs UGM Presentasikan Kajian Ketangguhan Banjir di ICWPT 2026
  • Student Gathering Magister Kajian Pariwisata Hadirkan “Gempita Wastra Pariwisata”, Rayakan Kekayaan Wastra Nusantara
  • Dari Kelas ke Lapangan: Mahasiswa Baru Magister Pengelolaan Lingkungan Menelusuri Dinamika Bentang Alam Yogyakarta
  • Prodi S3 Ilmu Lingkungan SPs UGM Selenggarakan Dissertation Camp & Student Gathering: Perkuat Kolaborasi Akademik melalui Keterlibatan Multidisiplin
Universitas Gadjah Mada
Sekolah Pascasarjana
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (0274) 544975, 564239
Email : sps@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju