Yogyakarta, 23 September 2026 — Program Studi Kajian Budaya dan Media (KBM), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Discussion Series: Kajian Gender di Perguruan Tinggi pada Rabu, 23 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang A Lantai 5 Unit 1 Sekolah Pascasarjana UGM ini menghadirkan Prof. Nurdiana Gaus, S.S., PGDIP., Ph.D. sebagai narasumber dan diikuti oleh keluarga besar KBM UGM.
Sesi pertama dalam rangkaian diskusi ini mengangkat tema “Neoliberalisme dan Gendered University”. Diskusi membahas bagaimana neoliberalisme tidak hanya dapat dipahami sebagai suatu paham ekonomi, tetapi juga sebagai suatu teknologi pemerintahan (technology of government) yang mempengaruhi cara individu dan institusi mengatur diri melalui mekanisme seperti kompetisi, produktivitas, efisiensi, evaluasi, dan tanggung jawab individual.
Dalam konteks pendidikan tinggi, pembahasan diarahkan pada bagaimana nilai-nilai tersebut dapat masuk ke dalam kehidupan universitas. Universitas semakin berhadapan dengan tuntutan produktivitas, performa, efisiensi, kompetisi, serta berbagai bentuk pengukuran kuantitatif. Mahasiswa juga dapat diposisikan sebagai individu yang perlu terus mengembangkan dirinya melalui pendidikan, keterampilan, pengalaman, jejaring, dan berbagai bentuk pencapaian sebagai modal untuk masa depan.
Diskusi juga menyoroti New Public Management (NPM) sebagai salah satu pendekatan yang membawa prinsip-prinsip manajemen sektor swasta ke dalam pengelolaan sektor publik, termasuk institusi pendidikan. Target, indikator kinerja, evaluasi, produktivitas, dan pengukuran hasil menjadi bagian dari mekanisme yang dapat membentuk perilaku individu maupun institusi. Dalam lingkungan akademik, misalnya, produktivitas dapat direpresentasikan melalui publikasi, sitasi, penelitian, hibah, konferensi, serta berbagai indikator kinerja lainnya.
Perspektif tersebut kemudian dipertemukan dengan konsep gendered university, yaitu gagasan bahwa universitas bukanlah ruang yang sepenuhnya netral secara gender. Norma, bahasa, struktur organisasi, budaya kerja, simbol, serta standar keberhasilan yang berkembang di lingkungan akademik dapat membawa konsekuensi yang berbeda bagi individu dengan posisi sosial dan tanggung jawab yang berbeda.
Dalam diskusi, perhatian juga diberikan pada budaya akademik yang menekankan kompetisi, produktivitas, mobilitas, publikasi, pencapaian individual, dan ketersediaan waktu yang tinggi. Perspektif gender mendorong pertanyaan lebih jauh mengenai apakah ukuran keberhasilan yang digunakan dalam universitas benar-benar netral serta bagaimana kondisi sosial tertentu dapat memengaruhi kemampuan individu untuk memenuhi standar tersebut. Dengan demikian, kajian gender tidak hanya berkaitan dengan jumlah perempuan dalam institusi pendidikan tinggi, tetapi juga dengan bagaimana norma, struktur organisasi, budaya, dan ukuran keberhasilan universitas dibentuk.
Pembahasan juga mengajak peserta melihat kembali tujuan pendidikan tinggi melalui perspektif liberal education. Pendidikan tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, tetapi juga memiliki fungsi untuk membentuk individu yang mampu berpikir kritis, memahami berbagai perspektif, mengembangkan penalaran, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik. Mahasiswa tidak hanya diposisikan sebagai konsumen pengetahuan, tetapi juga sebagai produsen pengetahuan melalui aktivitas membaca, mempertanyakan, melakukan penelitian, berdiskusi, menghasilkan gagasan, dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat.
Dalam konteks tersebut, peserta diajak merefleksikan pengalaman sebagai mahasiswa di tengah berbagai tuntutan performa akademik. Nilai, IPK, publikasi, prestasi, sertifikasi, organisasi, dan pengalaman kerja dapat menjadi bagian dari perjalanan akademik. Namun, mahasiswa juga didorong untuk mempertanyakan bagaimana standar keberhasilan tersebut dibentuk, siapa yang menentukan standar tersebut, apa yang tidak terlihat dalam angka, serta bagaimana dampaknya terhadap kelompok yang berbeda.
Diskusi turut mengangkat konsep greedy institution untuk melihat bagaimana institusi dapat memiliki tuntutan besar terhadap waktu, tenaga, loyalitas, dan perhatian individu. Dalam konteks akademik, tuntutan untuk terus produktif, menghasilkan publikasi, mengikuti kegiatan, memenuhi target, membangun jaringan, dan meningkatkan performa dapat membuat batas antara kehidupan akademik dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur.
Melalui Discussion Series ini, KBM UGM menghadirkan ruang dialog untuk memahami secara lebih kritis hubungan antara neoliberalisme, gender, dan kehidupan perguruan tinggi. Diskusi tidak hanya melihat bagaimana berbagai kebijakan, standar, indikator, dan mekanisme evaluasi mempengaruhi institusi, tetapi juga mengajak peserta memahami bagaimana individu membentuk dan mengatur dirinya sendiri di dalam lingkungan akademik tersebut.
Penulis: Khoirul Mujazanah



