Program Studi Magister Agama dan Lintas Budaya (ALB) atau Center for Religious & Cross-Cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM), menyelenggarakan kegiatan field trip bagi mahasiswa di Wonosobo dan Dieng pada 23–24 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan realitas sosial dan lingkungan di lapangan.
Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa CRCS angkatan 2024, dosen CRCS, termasuk Prof. Mark Woodward, serta staf CRCS. Sejumlah lokasi yang dikunjungi meliputi Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ), Kampung Ilmu di Garung, kawasan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Dieng, serta Perpustakaan Rakjat di Dieng.
Wonosobo dipilih karena memiliki keterkaitan dengan materi yang telah dipelajari mahasiswa, khususnya melalui mata kuliah Religion and Social Movement serta Environmental Ethics and Politics. Melalui kunjungan lapangan, mahasiswa diajak memahami secara langsung persoalan lingkungan, gerakan sosial, serta peran masyarakat dan institusi keagamaan dalam merespons berbagai persoalan tersebut.
Salah satu agenda kegiatan berlangsung di UNSIQ melalui seminar bertajuk “Agama di Tengah Krisis Lingkungan: Peran Institusi Keagamaan di Indonesia”. Seminar tersebut diselenggarakan bersama alumni CRCS yang kini menjadi pengajar di UNSIQ. Kegiatan menghadirkan Prof. Mark Woodward, Dr. Zainal Abidin Bagir, Farid Gaban, serta dosen UNSIQ sebagai pembicara.
Mahasiswa kemudian berdiskusi mengenai gerakan pertanian dan pertanian alternatif di Kampung Ilmu, Garung, bersama Farid Gaban dan Eka Mardiana, periset sekaligus praktisi pertanian di Wonosobo. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga berkesempatan melihat model pertanian masa depan yang sedang dikembangkan, termasuk smart greenhouse.
Pada hari berikutnya, mahasiswa mengunjungi pembangkit listrik tenaga panas bumi di Dieng untuk melihat secara langsung aktivitas pembangkit dan berdialog dengan masyarakat yang terdampak. Interaksi dengan masyarakat memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami dampak yang dirasakan warga serta berbagai upaya mereka dalam memperjuangkan ruang hidup.
Pengampu mata kuliah Environmental Ethics and Politics, Najiyah Martiam, mengatakan bahwa field trip bertujuan memperkenalkan mahasiswa pada kenyataan di lapangan, khususnya terkait persoalan lingkungan dan gerakan sosial. Menurutnya, pembelajaran tidak cukup dilakukan melalui bacaan, film, dan diskusi di kelas, tetapi juga perlu dilengkapi dengan pengalaman langsung serta dialog bersama masyarakat.
“Model pendidikan yang dikembangkan di CRCS berupaya mendekatkan pengetahuan dengan kenyataan di lapangan dan mewujudkan produksi pengetahuan bersama-sama dengan masyarakat,” ujar Najiyah.
Kegiatan field trip ini akan terus menjadi bagian dari pembelajaran CRCS pada tahun-tahun berikutnya. Pengalaman lapangan diharapkan dapat memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara agama, lingkungan, kebijakan, dan gerakan sosial sekaligus mendorong proses pembelajaran yang lebih kontekstual.
Penulis: Asti Rahmaningrum


