Yogyakarta, 24 April 2026 – Program Studi Magister Manajemen Bencana Universitas Gadjah Mada telah sukses menyelenggarakan seminar daring bertajuk SAFE (Seminar on Awareness for Everyone). Kegiatan yang dipandu oleh Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si. sebagai moderator ini menghadirkan Dr. Fachri Rajab (Deputi Bidang Klimatologi BMKG) sebagai narasumber utama untuk membedah kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi prediksi kemarau panjang yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.
Dalam paparannya, narasumber menekankan bahwa fenomena ini membawa ancaman serius terhadap berbagai sektor, mulai dari gangguan ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Selain dampak fisik, tantangan besar yang dihadapi adalah belum meratanya kesiapsiagaan di tingkat tapak serta risiko pola fast-food journalism dan simpang siur informasi di media sosial yang berpotensi memicu kepanikan atau justru sikap abai di masyarakat.
Sesi diskusi interaktif yang berlangsung dinamis menjadi ruang dialektika antara narasumber dan para peserta yang berasal dari kalangan akademisi maupun umum. Dalam sesi ini, dipaparkan proyeksi dampak kekeringan yang tidak hanya menyasar sektor pertanian dan kesehatan, tetapi juga stabilitas energi nasional akibat potensi penyusutan debit air pada waduk dan PLTA.
Diskusi ini menjadi sangat krusial mengingat adanya transisi ekstrem dari anomali hidrometeorologi basah menuju kekeringan yang dipicu oleh dinamika atmosfer global yang signifikan. Melalui forum ini, para akademisi dan praktisi berupaya menyinergikan langkah strategis agar data teknis meteorologi dapat diterjemahkan menjadi langkah mitigasi yang konkret bagi masyarakat luas.
Peserta diajak untuk memahami bahwa ancaman kemarau panjang 2026 merupakan sebuah realitas ilmiah yang menuntut perubahan perilaku secara kolektif, terutama dalam menginterpretasi peringatan dini cuaca secara akurat guna membangun resiliensi bangsa. Sebagai bagian dari rekomendasi kebijakan, seminar ini menyoroti pentingnya refleksi dari penanganan kemarau ekstrim tahun-tahun sebelumnya sebagai basis perbaikan strategi ke depan.
Langkah praktis seperti konservasi air dan penguatan literasi publik menjadi prioritas utama agar masyarakat mampu melakukan mitigasi mandiri dan tidak terjebak dalam arus informasi yang tidak tervalidasi. Melalui penguatan literasi ini, diharapkan publik dapat lebih siap dalam menghadapi fase ekstremitas cuaca yang akan datang.
Diskusi ini akhirnya merumuskan agenda aksi yang mendesak bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera memulai langkah-langkah konservasi air dan pencegahan dini kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Harapannya, sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran publik yang terbangun dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi Indonesia dalam menghadapi krisis di balik cakrawala kemarau panjang 2026.
Penulis: Dara Akhina
Editor : Siti Muyasaroh


