YOGYAKARTA – Tantangan global yang dipicu oleh perubahan iklim, penurunan daya dukung lingkungan, meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam, serta transformasi sosio ekonomi kini membuat isu kependudukan menjadi semakin kompleks ke depan. Menjawab pekerjaan rumah yang besar ini, Universitas Gadjah Mada kembali menggelar konferensi tahunan bergengsi, International Conference on Environmental Resources Management in Global Region (ICERM), yang tahun ini resmi memasuki musim ke-7. Diselenggarakan pada Selasa, 19 Mei 2026, konferensi internasional ini mengusung tema krusial, “Human Resources Management for Sustainability”. Melalui tema strategis ini, ICERM ke-7 diharapkan mampu menjadi wadah kajian ilmiah yang menghasilkan benchmark promosi dan mitigasi, sekaligus menjadi blue print berharga bagi para pengambil kebijakan dalam memperkaya pengetahuan serta meningkatkan kesadaran penduduk secara luas.
Sebagai bagian dari civitas akademika yang fokus pada dinamika kependudukan, Mahasiswa Program Studi Magister Kependudukan UGM turut ambil bagian secara aktif dengan menuangkan pemikiran taktis lewat dua artikel ilmiah strategis. Artikel pertama bertajuk “Urban Agglomeration Resilience in Java and Its Implication for Regional Development Policy” yang ditulis oleh kolaborasi Armadi Setyo Pambudi dan Suci Retno Ningtiyas. Penelitian ini menyoroti ketahanan kota dan regional di Pulau Jawa dengan menggunakan kalkulasi Agglomeration Resilience Index yang (ARI) memadukan dimensi demografi, sosio ekonomi, infrastruktur, dan lingkungan. Hasilnya menelurkan temuan mengejutkan karena wilayah yang memperoleh nilai ketahanan tertinggi justeru bukan Ibu Kota Negara maupun Ibu Kota Provinsi yang selama ini dikenal sebagai motor penggerak ekonomi. Sementara itu, artikel kedua yang tidak kalah tajam ditulis oleh Lambang Haris Wijayanto dengan judul “Ecological Pressure Beyond Population Growth: Waste Intensity, Management Capacity, and Policy Implications in Central Java, Indonesia” yang membedah secara mendalam bagaimana tekanan ekologis di Jawa Tengah dipicu oleh intensitas sampah dan kapasitas pengelolaannya di luar faktor pertumbuhan penduduk.
Forum ilmiah ini semakin berbobot dengan hadirnya deretan narasumber internasional yang membawa perspektif komprehensif mengenai mitigasi dan ketahanan di masa depan demi mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs). Pemaparan mendalam disampaikan oleh Prof. Dr. S Suriyanarayaan, M.Sc., M.Phil., Ph.D. mengenai pentingnya konsep Blue Green Infrastructure yang bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu adaptasi dan mitigasi, kesehatan dan kesejahteraan, serta ketahanan perkotaan. Beliau juga mengingatkan kembali tentang harga mahal kerusakan lingkungan yang harus ditanggung manusia akibat ketergantungan pada “Grey” Infrastructure atau pembangunan fisik konvensional.
Pandangan empiris mengenai manajemen risiko dan kebencanaan di tingkat regional diperkuat oleh kehadiran Dr. Abdul Haris Achadi, S.H., DESS dari Sekretariat Jenderal Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Beliau membagikan urgensi kesiapan regulasi dan ketahanan sumber daya manusia dalam menghadapi skenario bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim. Melengkapi perspektif tersebut, Dr. Khamarrul Azahari Bin Razak dari Disaster Preparedness and Prevention Center (DPCC) Universiti Teknologi Malaysia Kuala Lumpur turut memaparkan inovasi dan strategi preventif dalam penanggulangan bencana berbasis komunitas di kawasan Asia Tenggara. Melalui sinergi pemikiran dari para ahli dan kontribusi nyata dari Program Studi Magister Kependudukan, Fakultas Pascasarjana UGM kembali membuktikan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi menara gading akademis, melainkan motor penggerak solusi nyata demi masa depan bumi yang lebih berkelanjutan.
Penulis : Suci Retno Ningtyas
Editor : Siti Muyasaroh










