WONOSARI – Tim Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM mengawali rangkaian Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMAN 1 Wonosari melalui “Pelatihan Penguatan Kapasitas Guru Menjadi Agen Perdamaian – Sesi 1: Mengingat Kembali” pada Senin, 24 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah ini diikuti oleh 32 guru dan tenaga kependidikan, termasuk kepala sekolah.
Pelatihan ini difasilitasi oleh Dody Wibowo, dosen MPRK UGM, bersama enam mahasiswa MPRK UGM. Proses pelatihan berlangsung tidak sekadar penyampaian materi secara satu arah. Setelah pembukaan dan perkenalan, peserta diajak memahami konsep konflik, mencairkan suasana melalui permainan ice breaking, lalu menyelami materi tentang perdamaian sebelum memasuki diskusi kelompok kecil yang menjadi inti sesi ini.
Di sanalah proses “mengingat kembali” benar-benar terjadi. Peserta diajak menelusuri pemahaman mereka mengenai konflik dan kekerasan, cara-cara yang selama ini digunakan untuk merespons masalah tersebut, dari mana cara-cara itu dipelajari, hingga tantangan yang muncul saat mencoba menyelesaikan persoalan tersebut.
Berbagai pengalaman dibagikan, termasuk konflik antarguru yang selama ini mungkin jarang dibicarakan secara terbuka. Dari pertukaran cerita tersebut, muncul refleksi bahwa persoalan tidak selalu dihadapi secara langsung. Perilaku yang dianggap problematik terkadang dipahami sebagai bagian dari sifat atau sikap seseorang sehingga persoalan yang muncul cenderung dimaklumi. Peserta juga mengenali sejumlah tantangan dalam merespons konflik, mulai dari miskomunikasi, relasi kuasa, perbedaan idealisme, hingga kecenderungan untuk membatasi diri demi menghindari dampak konflik.
Pola-pola ini menunjukkan satu benang merah: dalam merespons konflik, persoalan dan orang yang terlibat di dalamnya kerap masih tercampur, sehingga sulit dilihat secara jernih. Sesi pertama ini menjadi ruang bagi peserta untuk melihat kembali cara mereka selama ini menghadapi konflik sekaligus mengenali keterampilan yang masih perlu diperkuat.
Refleksi yang terbangun hari itu menjadi pijakan untuk sesi berikutnya yang akan berfokus pada keterampilan belajar mendengar, sebagai salah satu langkah penting untuk memahami persoalan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya secara lebih utuh.
Penulis: Fajriatun Nisa Islami

