Yogyakarta, 6 April 2026 – Program Studi Magister Kependudukan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan field trip ke kawasan permukiman bantaran Kali Code. Kegiatan ini dipandu oleh Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D. dan diikuti oleh mahasiswa sebagai bagian dari pembelajaran lapangan untuk memahami dinamika kependudukan serta konsep permukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Kawasan permukiman Kali Code merupakan salah satu contoh kampung kota di Indonesia yang menunjukkan transformasi signifikan dari permukiman kumuh menjadi lingkungan yang lebih layak huni. Pertumbuhan permukiman di bantaran sungai ini dipengaruhi oleh urbanisasi, keterbatasan akses terhadap lahan perkotaan, serta kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Fenomena tersebut sejalan dengan kajian Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang menyebutkan bahwa permukiman bantaran sungai merupakan bagian dari dinamika perkembangan kota di Indonesia sehingga memiliki program 100-0-100 untuk mencapai tujuan 100% akses air minum layak, 0% Kawasan permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi layak.
Transformasi kawasan Kali Code tidak terlepas dari peran Romo Y.B. Mangunwijaya, seorang arsitek, budayawan, dan rohaniawan yang pada awal 1980-an memprakarsai penataan Kampung Code melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat (community-based development). Pendekatan ini menekankan partisipasi aktif warga dalam proses perencanaan dan pembangunan, sehingga tidak hanya meningkatkan kualitas fisik hunian, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan identitas komunitas. Keberhasilan penataan tersebut mendapatkan pengakuan internasional melalui Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992, yang menilai proyek ini sebagai contoh praktik baik dalam peningkatan kualitas permukiman masyarakat berpenghasilan rendah.
Selama kegiatan field trip, mahasiswa melakukan observasi langsung terhadap kondisi fisik permukiman, infrastruktur dasar, kepadatan penduduk, serta interaksi sosial masyarakat. Diskusi bersama Prof. Bakti Setiawan memberikan wawasan mengenai penerapan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 11 yang menekankan pentingnya mewujudkan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Aspek inklusivitas terlihat dari keterlibatan aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan serta adanya solidaritas sosial yang kuat. Dari sisi keamanan, penataan hunian dan peningkatan infrastruktur dasar membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan layak huni. Sementara itu, ketangguhan permukiman tercermin dari kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap risiko bencana, seperti banjir dan aliran lahar dingin, mengingat Sungai Code berhulu di Gunung Merapi. Adapun aspek keberlanjutan diwujudkan melalui pengelolaan lingkungan berbasis komunitas serta upaya menjaga kualitas hunian dan ruang hidup masyarakat.
Selain itu, mahasiswa juga mempelajari peran pemerintah dan kelembagaan lokal dalam mendukung peningkatan kualitas permukiman. Melalui berbagai program penataan kawasan kumuh dan penyediaan infrastruktur dasar salah satunya dengan program M3K (Munggah, Mundur, Madhep Kali) sebagai upaya mengurangi risiko bencana, meningkatkan kualitas lingkungan, dan bentuk penataan tata ruang permukiman. Sinergi antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan transformasi Kampung Code sebagai model permukiman perkotaan yang berkelanjutan.
Kegiatan ini memberikan pengalaman pembelajaran yang komprehensif dengan mengintegrasikan teori dan praktik di lapangan. Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan analisis kritis terhadap berbagai tantangan permukiman perkotaan serta memahami pentingnya pendekatan partisipatif dalam perencanaan pembangunan. Melalui field trip ini, Program Studi Magister Kependudukan menegaskan komitmennya dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pemahaman akademik yang kuat, tetapi juga kepekaan sosial terhadap dinamika masyarakat. Permukiman Kali Code menunjukkan bahwa penataan berbasis komunitas dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Penulis : Caesarean Fadhilah Putri
Editor : Siti Muyasaroh

