Yogyakarta, 5 Oktober 2026 — Bagaimana teknologi digital memengaruhi cara masyarakat memahami informasi dan memandang realitas sosial? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Discussion Series Program Studi Kajian Budaya dan Media (KBM), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), bertajuk “Kritik Sosial di Era Digital dengan Dukungan Konsep Humaniora Digital”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang 406, Lantai 4, Gedung Unit 1, Sekolah Pascasarjana UGM ini menghadirkan Prof. Ir. Nazrul Effendy, S.T., M.T., Ph.D. sebagai narasumber.
Perkembangan teknologi digital telah menghasilkan berbagai sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk memahami kehidupan masyarakat. Aktivitas di media sosial, pemberitaan daring, arsip digital, dan berbagai platform internet menyimpan jejak mengenai perubahan budaya, pola komunikasi, serta cara kelompok sosial direpresentasikan. Kondisi ini membuka peluang bagi penelitian humaniora untuk mengembangkan metode yang mampu menjangkau dan mengolah data dalam skala lebih luas.
Dalam diskusi tersebut, Humaniora Digital (Digital Humanities) dibahas sebagai pendekatan yang mempertemukan perspektif humaniora dengan teknologi digital dan metode komputasional. Melalui pendekatan ini, penelitian tidak hanya dilakukan dengan membaca dan menafsirkan sumber secara konvensional, tetapi juga dapat memanfaatkan analisis teks, visualisasi data, pemetaan digital, dan Natural Language Processing (NLP) untuk mengidentifikasi pola dalam berbagai sumber digital.
Pemanfaatan metode tersebut dapat membantu peneliti melihat kecenderungan yang muncul dalam data. Misalnya, analisis terhadap pemberitaan media dalam jumlah besar dapat digunakan untuk menelusuri kata-kata yang kerap dilekatkan pada kelompok tertentu atau mengidentifikasi perubahan cara suatu isu dibicarakan dari waktu ke waktu. Meski demikian, pola yang ditemukan melalui teknologi tidak serta-merta menjelaskan keseluruhan persoalan. Penafsiran tetap memerlukan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan politik yang melingkupinya.
Perspektif ini menjadi penting karena informasi digital tidak hadir dalam ruang yang sepenuhnya bebas dari kepentingan. Proses produksi, pengumpulan, pengolahan, dan penyebaran informasi melibatkan berbagai pihak serta keputusan yang dapat memengaruhi apa yang terlihat dan apa yang terabaikan. Data yang ditampilkan dalam bentuk angka atau grafik pun dapat membawa bias, bergantung pada cara data dipilih, dikelompokkan, dan disajikan.
Hal tersebut juga berkaitan dengan peran algoritma dalam kehidupan digital. Algoritma dapat memengaruhi konten yang muncul di hadapan pengguna dan membentuk pengalaman mereka ketika mengakses informasi. Oleh karena itu, kajian terhadap teknologi perlu melampaui cara kerja teknisnya dengan turut mempertanyakan kepentingan yang mendasari penggunaannya, pihak yang memiliki kendali, serta dampaknya terhadap masyarakat.
Bagi mahasiswa KBM, pembahasan ini memberikan perspektif untuk mengkaji media dan teknologi sebagai bagian dari dinamika kebudayaan. Teknologi digital dapat menjadi sarana untuk mengidentifikasi pola representasi dan memahami peredaran informasi, tetapi penggunaannya perlu disertai kemampuan membaca relasi kekuasaan yang memengaruhi produksi makna. Dengan demikian, penelitian tidak berhenti pada penemuan pola, tetapi berlanjut pada upaya memahami mengapa pola tersebut terbentuk dan apa implikasinya bagi kehidupan sosial.
Aspek etika juga menjadi bagian penting dalam penggunaan Humaniora Digital. Data yang tersedia di internet tidak selalu dapat digunakan tanpa pertimbangan lebih lanjut. Privasi, persetujuan, keamanan informasi, hak cipta, dan kemungkinan dampak penelitian terhadap individu maupun kelompok perlu diperhatikan. Peneliti juga perlu mempertimbangkan bagaimana hasil penelitian dipublikasikan agar penyajian informasi tidak mengabaikan konteks atau merugikan pihak yang menjadi objek kajian.
Selain membantu proses analisis, teknologi digital memungkinkan hasil penelitian disebarluaskan melalui berbagai bentuk publikasi, seperti situs web, arsip digital, peta interaktif, dan visualisasi data. Karakter ini membuka peluang bagi pengetahuan akademik untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Namun, penyebarluasan pengetahuan tetap perlu mempertimbangkan aksesibilitas, kepemilikan data, dan hak masyarakat atas representasi kebudayaannya.
Melalui Discussion Series ini, KBM mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan memanfaatkan teknologi sekaligus mempertahankan sikap kritis dalam memahami perubahan sosial. Humaniora Digital menunjukkan bahwa teknologi dan data dapat memperluas kemungkinan penelitian, sementara perspektif humaniora membantu mengungkap makna, konteks, dan relasi kekuasaan di baliknya. Perpaduan keduanya menjadi bekal penting untuk membaca masyarakat digital secara lebih mendalam dan bertanggung jawab.
Penulis: Khoirul Mujazanah

