Kulon Progo (19/9) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) bersama masyarakat dan pemangku kepentingan menggelar Sarasehan dan Edukasi Pengelolaan Sedimen di Sungai Progo Hilir Secara Terpadu dan Berkelanjutan, Sabtu (19/9), di Pendopo Bleberan, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo.
Kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan ke kawasan konservasi mangrove, kemudian dilanjutkan sarasehan dan dialog lintas sektor. Forum ini membahas pengelolaan kawasan pascatambang yang aman secara tata ruang dan berkelanjutan secara ekologis, sekaligus menggali potensi ekowisata edukasi berbasis biodiversitas sebagai alternatif penguatan ekonomi masyarakat.
Sarasehan juga menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara Kelompok Tani Hutan (KTH), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pemerintah kelurahan, dan akademisi SPs UGM. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan wisata alam yang berbasis masyarakat, sekaligus tetap menjaga fungsi ekologis kawasan Sungai Progo Hilir.
Melalui kegiatan ini, SPs UGM mendorong pemanfaatan pengetahuan akademik dan potensi lokal untuk membangun pengelolaan lingkungan yang kolaboratif, produktif, dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar Sungai Progo Hilir.
Ketua Tim PkM SPs Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng. menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk pengelolaan alam pasca tambang.
“Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah pengelolaan kawasan pascatambang. Pengelolaan kawasan tersebut membutuhkan pendekatan yang aman secara tata ruang sekaligus mampu menjaga fungsi ekologis kawasan. Dalam konteks tersebut, dialog antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi menjadi penting untuk menghasilkan alternatif pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat”.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat dan pemerintah daerah dalam menemukan solusi berbasis pengetahuan untuk menghadapi tantangan pengelolaan lingkungan dan pembangunan ekonomi lokal. Berbagai elemen yang tergabung dalam kegiatan ini antara lain Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS SO), Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral DIY (DPUPESDM DIY), Fakultas Kehutanan UGM.
Dari Sungai Progo Hilir, kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan akademisi diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya model pengelolaan kawasan yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (suronokarti)


