Yogyakarta 10 April 2026 Suasana di kawasan Komando Resor Militer (Korem) 072/Pamungkas terasa berbeda. Di tengah kegiatan Jumat Sehat yang diikuti oleh berbagai elemen, hadir sosok yang tak hanya memimpin di lapangan, tetapi juga membawa perspektif akademik yang kuat dalam setiap langkahnya. Ia adalah Brigadir Jenderal (Brigjen) Yuniar Dwi Hantono, S.Sos., M.Si., M.Sc., Danrem 072/Pamungkas Yogyakarta yang juga alumni Magister Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada (UGM).
Bagi Brigjen Yuniar, pendidikan bukan sekadar fase yang dilalui, melainkan fondasi berpikir yang terus hidup dalam setiap pengambilan keputusan. Pengalamannya menempuh studi di Program Magister Ketahanan Nasional UGM membentuk cara pandangnya dalam melihat persoalan secara komprehensif tidak hanya dari sisi praktis, tetapi juga melalui pendekatan ilmiah yang terukur.
“Salah satu hal paling mendasar yang saya pelajari adalah bagaimana membangun basis analisis. Setiap keputusan harus berangkat dari data dan fakta, kemudian diolah menjadi data empiris yang bisa dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut menjadi kunci dalam menghadapi kompleksitas tantangan di lapangan. Dalam dinamika kewilayahan yang terus berkembang, keputusan yang diambil tidak bisa lagi bertumpu pada intuisi semata. Dibutuhkan ketajaman analisis, kemampuan membaca situasi, serta keberanian memilih alternatif tindakan yang paling relevan.
Menurutnya, proses analisis tidak berhenti pada pengumpulan data. Lebih dari itu, diperlukan kemampuan untuk mengembangkan berbagai skenario tindakan yang memiliki dasar referensi yang jelas. Hal ini memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tidak bersifat spekulatif, melainkan terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun praktis.
“Dengan pendekatan seperti itu, kita tidak hanya berbicara tanpa dasar. Semua harus punya rujukan yang jelas dan bisa dikaitkan dengan kondisi nyata di lapangan,” tegasnya.
Namun demikian, Brigjen Yuniar juga menyadari bahwa konsep Ketahanan Nasional tidak boleh bersifat statis. Ia menilai bahwa pendekatan klasik seperti Asta Gatra, Panca Gatra, dan Trigatra tetap relevan sebagai fondasi, tetapi perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Kita tidak bisa hanya terpaku pada konsep yang sudah ada. Kita harus mampu menyerap berbagai faktor baru, menyesuaikan dengan dinamika dan strategi yang berkembang. Di situlah konsep ketahanan menjadi lebih kaya dan adaptif,” jelasnya.
Pandangan tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan praktik di lapangan. Dalam konteks ini, hubungan antara UGM sebagai institusi pendidikan dan para alumninya menjadi sangat strategis. Kegiatan seperti Jumat Sehat tidak sekadar ajang olahraga bersama, tetapi juga ruang untuk membangun jejaring, berbagi gagasan, serta memperkuat kolaborasi lintas generasi.
Bagi mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan, Brigjen Yuniar memiliki pesan sederhana namun penuh makna. Ia menggambarkan perjalanan akademik seperti mengayuh sepeda proses yang mungkin tidak selalu cepat, tetapi harus terus dijalankan.
“Teruslah mengayuh, walaupun pelan. Yang penting jangan berhenti. Karena kalau berhenti, kita tidak akan sampai ke tujuan,” pesannya.
Filosofi tersebut bukan sekadar motivasi, melainkan refleksi dari perjalanan panjang yang telah ia tempuh. Dalam dunia yang penuh dinamika dan tantangan, konsistensi menjadi kunci utama untuk mencapai tujuan.
Melalui perpaduan antara ketajaman analisis, keterbukaan terhadap perubahan, dan semangat yang tak pernah padam, Brigjen Yuniar Dwi Hantono menunjukkan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui kekuatan berpikir dan ketekunan dalam belajar.
Di tengah arus perubahan global yang semakin cepat, sosok seperti dirinya menjadi representasi penting bagaimana ilmu pengetahuan dan pengabdian dapat berjalan beriringan. Sebuah pengingat bahwa menjaga ketahanan bangsa dimulai dari cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan terus bergerak maju tanpa pernah berhenti mengayuh.
Penulis: Arfikah



