• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • IT Center
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Posisi
    • Keunggulan
    • Struktur Organisasi
    • Layanan dan Fasilitas
    • Kehidupan Kampus
    • Kontak
  • PPID
    • Informasi Publik
      • Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan secara Berkala
      • Informasi Tersedia Setiap Saat
      • Daftar Informasi Dikecualikan
    • Layanan Informasi
      • Alur dan Prosedur Permohonan Informasi
      • Alur dan Prosedur Pengajuan Keberatan atas Informasi
      • Prosedur dan Tatacara Penyelesaian Sengketa
      • Maklumat Pelayanan Informasi Publik
  • Akademik
    • Pengumuman
    • Dokumen Akademik
    • Kalender Akademik
  • Admisi
    • Program Studi
    • Beasiswa
    • Syarat Pendaftaran
    • Prosedur Pendaftaran
    • Biaya Pendidikan (UKT)
    • Registrasi
  • Kegiatan
    • Agenda
    • Berita
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Survei Layanan
  • Beranda
  • Berita
  • KBM Bahas Gender dan Kepemimpinan di Perguruan Tinggi melalui Perspektif Kritis

KBM Bahas Gender dan Kepemimpinan di Perguruan Tinggi melalui Perspektif Kritis

  • Berita
  • 14 Oktober 2026, 07.52
  • Oleh: Nuriyawan
  • 0

Yogyakarta, 7 Oktober 2026 — Program Studi Kajian Budaya dan Media (KBM), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), mengangkat isu gender dan kepemimpinan di perguruan tinggi melalui diskusi bersama Prof. Nurdiana Gaus. Kegiatan ini membahas bagaimana konstruksi gender, budaya organisasi, dan relasi kuasa memengaruhi praktik kepemimpinan serta kesempatan perempuan untuk menduduki posisi strategis di lingkungan akademik.

Dalam diskusi bertajuk “Gender dan Leadership di Perguruan Tinggi” tersebut, mahasiswa diajak mempertanyakan pandangan umum yang menempatkan kepemimpinan sebagai kemampuan individual yang melekat pada sosok tertentu. Melalui perspektif critical leadership, kepemimpinan dipahami bukan hanya sebagai karakter atau kewenangan seorang pemimpin, melainkan sebagai proses yang terbentuk melalui hubungan antarindividu dan distribusi kekuasaan dalam organisasi.

Pendekatan critical leadership mendorong kajian kepemimpinan untuk tidak berhenti pada pertanyaan mengenai bagaimana seorang pemimpin dapat menjalankan tugasnya secara efektif. Perspektif ini juga mengajak untuk mengkaji siapa yang diakui sebagai pemimpin, bagaimana pengaruh dibentuk, serta nilai dan kepentingan apa yang mendasari praktik kepemimpinan. Dengan demikian, struktur dan kebiasaan organisasi dapat ditelaah secara kritis untuk memahami kemungkinan terjadinya ketimpangan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah masih kuatnya asosiasi antara kepemimpinan dan karakteristik maskulin. Ketegasan, dominasi, serta kemampuan mengendalikan organisasi kerap dijadikan gambaran pemimpin yang ideal. Sementara itu, perempuan dapat menghadapi ekspektasi yang berbeda ketika menduduki posisi kepemimpinan, termasuk penilaian berdasarkan stereotip mengenai perilaku dan peran gender. Situasi ini memperlihatkan bahwa pengakuan terhadap kapasitas pemimpin tidak selalu terlepas dari konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat.

Hambatan yang dihadapi perempuan dalam perjalanan karier akademik dapat dipahami melalui konsep sticky floor, leaky pipeline, dan glass ceiling. Sticky floor menggambarkan kesulitan untuk bergerak dari posisi awal karier, leaky pipeline menunjukkan berkurangnya keterwakilan perempuan di sepanjang jenjang karier, sedangkan glass ceiling merujuk pada hambatan tidak kasatmata yang menyulitkan perempuan mencapai posisi kepemimpinan tertinggi. Berbagai fenomena tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan gender tidak cukup dijelaskan melalui perbedaan kemampuan individu, tetapi juga perlu dilihat dari sistem dan struktur kelembagaan.

Diskusi juga menyoroti perubahan tata kelola perguruan tinggi yang semakin dipengaruhi oleh kompetisi, internasionalisasi, komersialisasi, dan pengukuran kinerja. Di satu sisi, perguruan tinggi memiliki misi untuk menghasilkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan bagi kepentingan publik. Di sisi lain, institusi juga menghadapi tuntutan untuk meningkatkan daya saing, membangun kemitraan industri, serta menghasilkan inovasi. Perubahan tersebut turut memengaruhi standar keberhasilan organisasi dan kriteria kepemimpinan yang dianggap sesuai.

Dalam konteks ini, pembagian kerja di perguruan tinggi menjadi aspek penting untuk diperhatikan. Perempuan kerap menjalankan pekerjaan yang menunjang keberlangsungan institusi, seperti penjaminan mutu, pengembangan akademik, dan pendampingan mahasiswa. Meskipun memiliki peran penting, pekerjaan tersebut tidak selalu memperoleh pengakuan yang setara dengan aktivitas yang lebih terlihat, seperti pengelolaan proyek penelitian, keuangan, dan kemitraan eksternal. Perbedaan pengakuan ini dapat memengaruhi penilaian kinerja dan peluang pengembangan karier.

Selain membahas hambatan struktural, diskusi mengangkat pentingnya agensi perempuan dalam menegosiasikan posisi dan menjalankan kepemimpinan. Jaringan dukungan dan solidaritas ant perempuan, termasuk melalui semangat women support women, dapat menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi perempuan dan mengembangkan alternatif praktik kepemimpinan. Namun, upaya tersebut perlu disertai perubahan kelembagaan agar tanggung jawab mewujudkan kesetaraan tidak hanya dibebankan kepada individu.

Melalui perspektif critical leadership, KBM mendorong mahasiswa untuk memahami kepemimpinan sebagai fenomena yang berkaitan dengan konstruksi sosial, relasi kuasa, dan dinamika organisasi. Pembahasan ini sekaligus menegaskan pentingnya pengarusutamaan gender melalui peningkatan kesadaran, kebijakan yang responsif gender, dan transformasi budaya kelembagaan. Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat mengembangkan lingkungan akademik yang lebih adil, inklusif, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh sivitas akademika.

Penulis: Khoirul Mujazanah

Tags: SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 5: Kesetaraan Gender

Recent Posts

  • Kolaborasi SPs UGM dan Mandiri Taspen Perkuat Kepemimpinan, Inovasi, dan Kapasitas Akademik Mahasiswa
  • KBM Bahas Gender dan Kepemimpinan di Perguruan Tinggi melalui Perspektif Kritis
  • Menelaah Masyarakat Digital secara Kritis, KBM Angkat Perspektif Humaniora Digital
  • SPs UGM Dorong Ekowisata Berkelanjutan di Progo Hilir
  • Turun Gunung ke Kaliangkrik, Prodi MMB SPs UGM Kawal Langsung Persiapan Kegiatan di Magelang
Universitas Gadjah Mada
Sekolah Pascasarjana
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (0274) 544975, 564239
Email : sps@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju