Program Studi Doktor Kajian Pariwisata, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Narasi Harmoni di Balik Bakpia: Penguatan Narasi Pemanduan tentang Kuliner Bakpia untuk Pramuwisata Anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DIY” yang diselenggarakan pada Rabu, 15 Juli 2026 di Sentra Bakpia Patuk, Ngampilan, Kota Yogyakarta. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas pramuwisata dalam mengembangkan storytelling kuliner yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menyampaikan nilai-nilai harmoni, toleransi, dan perdamaian melalui salah satu ikon kuliner Yogyakarta, yaitu bakpia.
Dalam pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism), wisatawan tidak hanya mencari destinasi atau cita rasa, tetapi juga makna di balik setiap pengalaman yang mereka peroleh. Berangkat dari perspektif tersebut, program ini mengajak para pramuwisata untuk melihat bakpia bukan sekadar oleh-oleh khas Yogyakarta, melainkan sebagai warisan budaya yang merekam perjalanan panjang perjumpaan masyarakat Tionghoa dan Jawa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tiga sesi pengayaan materi di kelas. Pada sesi pertama, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, Guru Besar Antropologi Sekolah Pascasarjana UGM, mengajak peserta membaca bakpia dari perspektif antropologi budaya. Menurutnya, bakpia tidak dapat dipahami semata sebagai produk kuliner, melainkan sebagai hasil proses akulturasi budaya yang berlangsung ketika tradisi kuliner masyarakat Tionghoa berinteraksi dengan masyarakat Jawa di Yogyakarta. Melalui penyesuaian bahan, cita rasa, dan cara produksi agar sesuai dengan konteks masyarakat lokal yang mayoritas Muslim, bakpia berkembang menjadi identitas kuliner Yogyakarta.
Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra juga menjelaskan bahwa perjalanan bakpia tidak berhenti pada tahap akulturasi, tetapi berlanjut melalui proses asimilasi sosial, lokalisasi sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta, pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, hingga menghadapi dinamika globalisasi melalui inovasi produk dan strategi pemasaran modern. Dengan demikian, bakpia bukan sekadar makanan, melainkan cerminan kemampuan masyarakat Yogyakarta mengelola perjumpaan budaya secara damai dan kreatif. Perspektif tersebut menjadi landasan konseptual bagi peserta untuk membangun storytelling yang tidak hanya menjelaskan asal-usul bakpia, tetapi juga merefleksikan nilai adaptasi, harmoni, dan perdamaian.
Sesi berikutnya Dr. Mohamad Yusuf Ketua Program Studi Doktor Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana membahas sejarah perkembangan bakpia dalam lanskap budaya dan pariwisata Yogyakarta, serta proses pembuatannya sebagai bagian dari experiential storytelling yang dihasilkan melalui proses co-creation. Peserta diajak memahami bagaimana perubahan bahan, teknik produksi, hingga berkembangnya sentra industri bakpia mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Yogyakarta. Pemahaman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi narasi pemanduan yang mampu menghubungkan kuliner dengan sejarah, identitas lokal, dan nilai-nilai perdamaian.
Setelah sesi kelas, peserta mengikuti kegiatan crafting experience di UMKM Bakpia Doea Djempol. Dalam kegiatan ini, para pramuwisata mengamati secara langsung proses produksi bakpia, berdialog dengan pelaku usaha. Pendekatan berbasis pengalaman ini dirancang agar peserta mampu mengintegrasikan fakta sejarah, proses produksi, dan nilai-nilai budaya ke dalam narasi yang lebih hidup dan bermakna bagi wisatawan.
Melalui program ini, Program Studi Doktor Kajian Pariwisata SPs UGM mendorong transformasi peran pramuwisata dari penyampai informasi menjadi interpreter budaya yang mampu membantu wisatawan memahami makna di balik destinasi yang mereka kunjungi. Storytelling yang dibangun diharapkan tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota yang tumbuh melalui dialog budaya, toleransi, dan harmoni.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Sekolah Pascasarjana UGM untuk mentransformasikan hasil riset dan kepakaran akademik menjadi program pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata. Melalui kolaborasi dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DIY dan UMKM Bakpia Doea Djempol, program ini diharapkan dapat memperkaya praktek pemanduan wisata sekaligus memperkuat pengembangan pariwisata budaya yang lebih bermakna, inklusif, dan berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penulis: Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi
Editor: Arfikahi


