
Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), kembali menyelenggarakan Wednesday Forum pada Rabu (13/5) di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM Unit 1. Pada kesempatan ini, forum menghadirkan Sari Oktafiana, peneliti dan konsultan independen yang memiliki fokus pada isu Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), pendidikan, perubahan iklim, dan energi terbarukan.
Dalam presentasinya yang berjudul “Sasi, Women’s Agency and Climate Change Mitigation in the Bird’s Head Seascape (Misool Island), Southwest Papua”, Sari memaparkan hasil penelitian mengenai praktik sasi sebagai sistem tata kelola sumber daya laut berbasis adat di Pulau Misool, Papua Barat Daya. Penelitian ini menyoroti peran perempuan dalam pengelolaan sasi serta kontribusinya terhadap upaya mitigasi perubahan iklim dan penguatan ketahanan masyarakat pesisir.
Melalui penelitian kualitatif yang dilakukan di Desa Aduwei dan Kapatcol, Sari menemukan bahwa kelompok perempuan seperti Waifuna dan Joom Jak berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya laut berbasis adat. Selain mengatur akses terhadap wilayah laut, kelompok-kelompok tersebut turut memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Menurut Sari, perempuan di Misool mampu menjalankan peran strategis meskipun berada dalam struktur sosial adat yang masih didominasi laki-laki. “Perempuan di Misool bukan sekadar penerima dampak perubahan iklim, tetapi juga aktor penting yang secara aktif berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut dan memperkuat resiliensi masyarakat melalui praktik sasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam tata kelola sasi menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal dan aksi kolektif masyarakat dapat menjadi bagian penting dari strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Temuan tersebut juga memperlihatkan bahwa praktik adat tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme konservasi lingkungan, tetapi juga menjadi ruang bagi perempuan untuk memperluas partisipasi dan peran kepemimpinannya dalam komunitas.
Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi mahasiswa, dosen, peneliti, dan masyarakat umum. Berbagai pertanyaan mengemuka mengenai hubungan antara kearifan lokal, tata kelola sumber daya alam, dan tantangan perubahan iklim di kawasan pesisir.
Melalui Wednesday Forum, CRCS UGM terus menghadirkan ruang dialog akademik untuk mendiskusikan isu-isu sosial, budaya, lingkungan, dan keagamaan yang relevan dengan tantangan masyarakat kontemporer.
Penulis: Asti Rahmaningrum