Yogyakarta, 4 Mei 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia, Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM berkolaborasi dengan Museum Ullen Sentalu menyelenggarakan acara Talk and Performance. Kegiatan akademik yang mengusung tema “R.M. Jodjana; Embodied Culture in Motion: Presence as Cultural Ambassadorship” ini berlangsung pada Rabu (29/4/2026). Perhelatan bergengsi tersebut digelar secara hibrida dengan berpusat di ruang pamer Museum Ullen Sentalu, kawasan Kaliurang. Selain itu, acara ini juga disiarkan secara interaktif melalui platform Zoom guna menjangkau audiens yang lebih luas dari berbagai kalangan.
Acara yang memadukan keindahan pertunjukan seni dan tajamnya diskursus akademik ini diawali dengan penuh antusiasme. Perwakilan Museum Ullen Sentalu, Bapak Daniel Haryono, membuka kegiatan ini dengan memberikan sambutan hangat kepada seluruh peserta. Rangkaian sambutan kemudian dilanjutkan oleh Ketua Program Studi Magister PSPSR SPs UGM, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, M.Hum. Dalam kesempatan tersebut, beliau secara khusus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas institusi pendidikan dan kebudayaan. Sinergi ini dinilai sangat esensial dalam merawat ingatan kolektif masyarakat tentang tokoh-tokoh seni Nusantara yang kiprahnya telah mendunia.
Sesi diskusi utama berlangsung sangat dinamis dengan menghadirkan Ketua Program Studi Doktor PSPSR SPs UGM, Dr. Sri Margana, M.Hum., M.Phil. Dalam paparannya, sejarawan tersebut secara komprehensif membedah rekam jejak dan perjalanan hidup Raden Mas Jodjana. R.M. Jodjana sendiri dikenal luas sebagai seorang maestro tari Jawa yang menjadi pionir diplomasi budaya di daratan Eropa pada awal abad ke-20. Melalui penelusuran rekam jejak karier dan latar belakang biografinya, Dr. Margana menghadirkan perspektif sejarah yang sangat kaya. Beliau menunjukkan dengan jelas bagaimana R.M. Jodjana menggunakan seni tari sebagai medium diplomasi yang elegan dan kuat di kancah internasional.
Diskusi akademis ini menjadi semakin tajam dan berbobot dengan kehadiran Dr. G. R. Lono Lastoro Simatupang, M.A., sebagai pembahas ahli. Pakar kajian seni tersebut memberikan wawasan yang mendalam kepada para peserta yang hadir baik secara luring maupun daring. Beliau secara khusus memantik refleksi kritis mengenai konsep tubuh yang diposisikan sebagai pusat arsip dan data kebudayaan. Menurut pandangannya dalam konteks seni pertunjukan, tubuh seorang penari bukanlah sekadar alat mekanis untuk bergerak. Tubuh justru menjadi medium bernyawa yang merekam, menyimpan, dan mentransmisikan nilai-nilai budaya yang dapat dipelajari serta dibaca oleh orang lain (embodied culture).
Perayaan Hari Tari Dunia hasil kolaborasi ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman publik mengenai kontribusi besar seniman Indonesia di panggung global. Kegiatan ini sekaligus mempererat sinergi yang berkelanjutan antara akademisi kampus dan lembaga pelestari budaya di Yogyakarta. Lebih jauh, inisiatif strategis ini menjadi langkah nyata Sekolah Pascasarjana UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Upaya memperluas akses edukasi publik berbasis riset sejarah dan pengkajian seni ini sangat selaras dengan pilar Pendidikan Berkualitas (SDG 4) serta pelestarian warisan budaya (SDG 11). Seluruh capaian mulia tersebut diwujudkan secara nyata dengan memperkuat kemitraan inklusif demi merawat peradaban (SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Penulis: Namira
Editor: Berlian Belasuni


