Yogyakarta, 15 Agustus 2026 — Program Studi Doktor Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Kuliah Lapangan: Produksi Budaya, Prosumsi, dan Representasi Ruang Wisata Berbasis Heritage dan Alam di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada Sabtu (15/8). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) untuk mempertemukan pemahaman teoritis dengan praktik sosial budaya di lapangan.
Kegiatan diikuti oleh pengelola, staf, dosen, dan mahasiswa angkatan 2025. Sebanyak 22 peserta mengikuti rangkaian kunjungan ke tiga lokasi, yakni Rumah Atsiri Indonesia, Air Terjun Grojogan Sewu, dan Pasar Wisata Tawangmangu. Ketiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki karakter berbeda dalam merepresentasikan warisan budaya, komoditas lokal, dan wisata alam sebagai ruang produksi budaya.
Kunjungan pertama dilakukan di Rumah Atsiri Indonesia. Peserta mengamati praktik produksi komoditas atsiri, pengelolaan industri kreatif berbasis warisan budaya, serta pengembangan wisata edukasi. Melalui pengamatan langsung, mahasiswa dapat melihat bagaimana komoditas lokal dikembangkan dan ditempatkan dalam konteks ekonomi budaya dan industri kreatif.
Perjalanan dilanjutkan ke Air Terjun Grojogan Sewu untuk mengamati praktik prosumsi dalam wisata alam. Interaksi antara pengelola, wisatawan, ruang, dan pengalaman wisata menjadi bagian dari objek pengamatan. Ruang wisata dipahami tidak hanya sebagai tempat kunjungan, tetapi juga sebagai arena tempat berbagai praktik budaya dan pengalaman diproduksi.
Di lokasi terakhir, Pasar Wisata Tawangmangu, peserta mengeksplorasi praktik ekonomi budaya, komodifikasi produk lokal, serta representasi identitas daerah dalam ruang wisata. Aktivitas tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana produk lokal dan identitas daerah hadir serta memperoleh makna dalam praktik konsumsi pariwisata.
Rangkaian observasi tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan konsep produksi budaya, prosumsi, dan representasi dengan fenomena yang ditemui secara langsung. Melalui pengalaman empiris, mahasiswa diharapkan mampu melihat bagaimana komoditas lokal diproduksi dan direpresentasikan, bagaimana pengalaman wisata dikonstruksi sebagai nilai budaya dan ekonomi, serta bagaimana ruang wisata menjadi arena pembentukan identitas dan praktik budaya.
Kuliah lapangan juga diarahkan untuk memperkuat perspektif teoritis dan metodologis dalam pengembangan penelitian disertasi. Hasil observasi diharapkan dapat menjadi bahan bagi diskusi akademik, pengembangan kajian, serta pengayaan perspektif mahasiswa dalam memahami berbagai fenomena budaya dan media di ruang publik.
Selain aspek pembelajaran, kegiatan ini membuka peluang penguatan jejaring antara perguruan tinggi dan pengelola destinasi wisata maupun industri kreatif. Interaksi dengan berbagai ruang dan praktik wisata di Tawangmangu menjadi pengalaman empiris yang dapat mendukung pengembangan riset dan studi lapangan pada masa mendatang.
Melalui kuliah lapangan ini, pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman konsep di ruang kelas. Pengalaman mengamati secara langsung praktik produksi, konsumsi, prosumsi, dan representasi dalam ruang wisata menjadi bagian dari upaya memperkaya perspektif mahasiswa dalam membaca dinamika budaya dan media di masyarakat kontemporer.
Penulis: Khoirul Mujazanah



