Program Studi Doktor Inter-Religious Studies Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) menyelenggarakan kegiatan field trip sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) pada mata kuliah History of Religions atau Sejarah Agama-Agama. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan sejarah agama-agama, dinamika interaksi lintas kepercayaan, serta warisan budaya yang membentuk keberagaman masyarakat Indonesia hingga saat ini.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 1 Juni 2026 tersebut melibatkan mahasiswa peserta mata kuliah History of Religions dengan tujuan kunjungan ke sejumlah situs bersejarah di Jawa Tengah yaitu Museum Misi Muntilan dan Museum Pangeran Diponegoro Magelang. Kegiatan ini didampingi oleh Dr. Leonard Chrysostomos Epafras & Abdul Wahid, Ph.D.
Kunjungan pertama dilakukan ke Museum Misi Muntilan, sebuah situs yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan pendidikan dan misi Katolik di Indonesia. Museum ini menyimpan berbagai arsip, dokumentasi, dan artefak yang merekam perjalanan karya misi yang berkembang di Jawa sejak awal abad ke-20. Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara agama, pendidikan, pelayanan sosial, serta proses interaksi budaya yang berlangsung dalam masyarakat kolonial maupun pascakolonial. Pengalaman ini menjadi ruang refleksi akademik untuk memahami bagaimana institusi keagamaan berkontribusi terhadap pembangunan sosial dan transformasi masyarakat.
Selanjutnya mahasiswa mengunjungi Museum Pangeran Diponegoro Magelang, yang menyimpan berbagai catatan sejarah mengenai perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830). Kunjungan ini memberikan perspektif yang lebih luas mengenai keterkaitan antara identitas keagamaan, nasionalisme, dan gerakan perlawanan terhadap kolonialisme. Bagi mahasiswa yang mempelajari sejarah agama, figur Diponegoro menjadi contoh penting mengenai bagaimana nilai-nilai spiritual dan keyakinan religius dapat menjadi sumber inspirasi dalam perjuangan sosial dan politik.
Melalui rangkaian kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi faktual mengenai sejarah, tetapi juga diajak untuk melakukan analisis kritis terhadap berbagai proses sosial, budaya, dan keagamaan yang membentuk kehidupan masyarakat Indonesia. Interaksi langsung dengan koleksi museum, dokumen sejarah, serta narasi yang disampaikan pengelola situs memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam dibandingkan pembelajaran berbasis literatur semata.
Kegiatan Field Trip History of Religions juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan observasi, refleksi, dan analisis mahasiswa terhadap berbagai fenomena keagamaan dalam konteks sejarah. Pendekatan ini sejalan dengan visi pendidikan pascasarjana yang menekankan pentingnya integrasi antara penguasaan teori, pemahaman empiris, dan kemampuan berpikir kritis dalam menjawab berbagai isu sosial-keagamaan kontemporer.
Penulis : Siti Muyasaroh


