
Pembelajaran mengenai kepemimpinan tidak hanya dapat diperoleh melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lingkungan yang sarat nilai sejarah dan budaya. Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan Kuliah Lapangan Mata Kuliah Kepemimpinan dan Transformasi Budaya yang diselenggarakan di Puro Pakualaman Yogyakarta pada Kamis (11/6).
Kegiatan ini diikuti oleh 12 mahasiswa Program Studi Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (MKIK) Universitas Gadjah Mada, didampingi oleh dosen pengampu dan pendamping akademik. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami keterkaitan antara kepemimpinan, budaya, sejarah, dan transformasi sosial dalam konteks Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Dr. Pande Made Kutanegara, M.Si. yang menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual di lingkungan budaya. Menurutnya, Yogyakarta menawarkan banyak pelajaran mengenai praktik kepemimpinan, budaya, serta demokrasi yang berkembang dalam konteks keistimewaan daerah.
“Mahasiswa dari berbagai daerah memiliki kesempatan untuk belajar banyak mengenai Yogyakarta, baik terkait budaya, kepemimpinan, maupun praktik demokrasi yang berkembang di dalamnya,” ujarnya.
Dalam kuliah lapangan tersebut, mahasiswa mendapatkan materi dari Dr. Sudibyo Prawiroatmodjo yang membahas kepemimpinan dalam perspektif budaya Jawa. Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya yang membentuk nilai, etika, dan praktik sosial dalam masyarakat. Menurutnya, kepemimpinan yang efektif tidak hanya bergantung pada kemampuan administratif dan manajerial, tetapi juga pada kemampuan memahami nilai budaya, membangun keteladanan, menjaga harmoni sosial, serta menjunjung tinggi integritas dalam menjalankan amanah.
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai konsep kekuasaan dalam Babad Tanah Jawi. Dalam tradisi Jawa klasik, penguasa tidak hanya dipandang sebagai pemegang kekuasaan politik, tetapi juga sebagai figur yang memiliki legitimasi spiritual dan bertanggung jawab menjaga keseimbangan masyarakat. Materi ini memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai bagaimana budaya dan kekuasaan saling memengaruhi dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan.
Selain itu, peserta juga mempelajari konsep Asthabrata, ajaran kepemimpinan yang berasal dari Kakawin Ramayana. Ajaran tersebut memuat berbagai karakter yang perlu dimiliki seorang pemimpin, seperti kebijaksanaan, keberanian, keteladanan, kemampuan melindungi masyarakat, serta komitmen untuk menciptakan kesejahteraan bersama.
Dr. Sudibyo menegaskan bahwa nilai-nilai Asthabrata tetap relevan di tengah tantangan masyarakat modern karena dapat menjadi pedoman moral dalam menjalankan kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan publik. Topik lain yang dibahas dalam kegiatan ini adalah transformasi budaya dan tantangan kepemimpinan masa kini. Menurutnya, transformasi budaya tidak berarti meninggalkan tradisi, melainkan mengadaptasi nilai-nilai yang masih relevan agar dapat menjawab kebutuhan zaman. Puro Pakualaman menjadi contoh bagaimana institusi budaya mampu mempertahankan identitas historisnya sekaligus beradaptasi dengan perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa turut mengangkat isu mengenai digitalisasi dan posisi institusi budaya di tengah perkembangan masyarakat kontemporer. Diskusi berlangsung interaktif dan memberikan ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi berbagai persoalan kepemimpinan, budaya, demokrasi, serta tata kelola pemerintahan.
Pada bagian akhir, Dr. Sudibyo mengaitkan nilai-nilai kepemimpinan Jawa dengan tantangan era post-truth. Ia menekankan pentingnya empat nilai utama yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu ngadeg (teguh pada kebenaran), sabar, bener (jujur dan berintegritas), serta kuwat (kuat menghadapi berbagai godaan dan tantangan). Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas kepemimpinan di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang semakin kompleks.
Melalui kuliah lapangan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai kepemimpinan dan transformasi budaya, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar langsung yang memperlihatkan bagaimana nilai budaya berperan dalam membentuk praktik kepemimpinan dan tata kelola sosial di masyarakat.
Pelaksanaan kuliah lapangan ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan pengalaman belajar kontekstual yang memperkaya pemahaman mahasiswa di luar ruang kelas. Kegiatan ini juga mendukung SDG 11: Sustainable Cities and Communities (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) karena mendorong pelestarian serta pemanfaatan warisan budaya sebagai sumber pembelajaran bagi generasi muda. Selain itu, pembahasan mengenai etika, integritas, dan tata kelola kepemimpinan turut berkontribusi terhadap SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan nilai-nilai kepemimpinan yang berintegritas dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Penulis: Yeti Susilowati