Tim mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional dengan meraih Bronze Medal dalam ajang 2nd International Student Summit 2026 yang diselenggarakan pada 14–15 Februari 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Penghargaan tersebut didapatkan pada kategori Food melalui inovasi berjudul “ROOT CHIPS: A Prebiotic Zero-Waste Snack for Low-Carbon Food Solutions.”
Tim ini dibimbing oleh Dr. Priyaji Agung Pambudi dengan Baso Samsu Rijal sebagai ketua tim, serta beranggotakan Nurlaila Sahara Worabay, Rabiyathul Adawiyah Abbas, Muchammad Shaliqin, dan Atik Septiana Putri.
International Student Summit merupakan salah satu forum akademik global yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk bertukar gagasan, mempresentasikan riset, dan menawarkan solusi inovatif terhadap beragam isu dunia, mulai dari pangan, kesehatan, hingga lingkungan. Melalui kompetisi ini, peserta tidak hanya diuji pada aspek orisinalitas ide, tetapi juga pada sejauh mana solusi yang diajukan dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dalam konteks inilah, ROOT CHIPS hadir sebagai inovasi yang mengintegrasikan sains pangan, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan potensi lokal.
ROOT CHIPS dikembangkan sebagai camilan sehat berbasis umbi lokal seperti singkong, talas, dan ubi jalar yang selama ini sering kurang termanfaatkan secara optimal dalam rantai pasok pangan. Banyak umbi dengan bentuk tidak seragam atau dianggap “cacat pasar” seringkali berakhir sebagai limbah atau dijual dengan harga sangat rendah. Melalui inovasi ini, umbi-umbi tersebut diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi dengan pendekatan zero-waste, sehingga mampu meminimalkan pemborosan bahan baku dan memperpanjang umur simpan produk.
Tidak hanya berfokus pada aspek pengurangan limbah, ROOT CHIPS juga dirancang sebagai pangan fungsional yang kaya prebiotik. Tim mengoptimalkan proses pengolahan untuk menghasilkan resistant starch type 3 (RS3), yaitu pati resisten yang terbentuk melalui rangkaian pemanasan dan pendinginan. RS3 berperan sebagai prebiotik yang dapat mendukung kesehatan mikrobiota usus, membantu menjaga kesehatan pencernaan, dan berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan imunitas tubuh. Dengan demikian, ROOT CHIPS tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga menawarkan nilai tambah kesehatan.
Pada sisi teknologi pengolahan, ROOT CHIPS mengadopsi metode pemanggangan suhu rendah untuk menggantikan proses penggorengan tinggi suhu yang lazim digunakan dalam industri camilan konvensional. Pendekatan ini tidak hanya membantu menekan penggunaan minyak, tetapi juga mengurangi risiko pembentukan senyawa berbahaya seperti akrilamida yang sering muncul pada produk berbasis pati dengan pemanasan tinggi. Di saat yang sama, teknik ini dirancang agar tetap mempertahankan tekstur renyah dan cita rasa yang disukai konsumen, sehingga aspek kesehatan dan kenikmatan dapat berjalan beriringan.
Inovasi ROOT CHIPS juga mengusung konsep low-carbon food system. Pemilihan bahan baku umbi lokal yang mudah dibudidayakan, adaptif terhadap berbagai kondisi lahan, dan dapat diperoleh dari petani sekitar diharapkan dapat mempersingkat rantai pasok serta menekan jejak karbon distribusi. Di tingkat hulu, pemanfaatan hasil panen nonstandar membantu mengurangi food loss; sementara di tingkat hilir, proses produksi yang lebih efisien energi dan minim limbah turut mengurangi potensi emisi. Dengan demikian, ROOT CHIPS ditempatkan sebagai prototipe produk pangan yang berupaya mengintegrasikan keberlanjutan dari hulu ke hilir.
Prestasi yang diraih tim UGM pada kategori Food ini sekaligus menegaskan komitmen kampus dalam mendorong inovasi mahasiswa yang relevan dengan agenda pembangunan global. ROOT CHIPS secara langsung berkontribusi pada beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan pangan bergizi dan pemanfaatan sumber daya lokal, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pengembangan pangan fungsional yang mendukung kesehatan pencernaan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui konsep produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab, serta SDG 13 (Climate Action) melalui upaya pengurangan limbah dan penerapan sistem pangan rendah emisi.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UGM mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat internasional dengan menggabungkan sains, inovasi, dan keberlanjutan. Melalui ROOT CHIPS, tim berharap dapat menginspirasi pengembangan produk pangan lokal lain yang tidak hanya kompetitif di pasar, tetapi juga berpihak pada lingkungan dan petani. Ke depan, inovasi ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut, baik melalui penelitian lanjutan, kolaborasi industri, maupun program pemberdayaan masyarakat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas di tingkat nasional maupun global.
Tags : inovasi pangan, gizi, low carbon food system, SDG 2: tanpa kelaparan, SDG 3: kehidupan sehat dan sejahtera, SDG 12: konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab, SDG 13: penanganan perubahan iklim
Penulis : Siti Muyasaroh


