Minat Studi Manajemen Informasi dan Perpustakaan Sekolah Pascasarjana bekerja sama dengan Yayasan Annisa Swasti Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan yang berfokus pada peningkatan literasi digital dan keuangan bagi buruh gendong (19/5). Kegiatan ini bertujuan membantu peserta memahami manfaat teknologi digital, mengenali berbagai bentuk penipuan digital, serta mengetahui cara menghindari jeratan pinjaman online.
Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh kondisi buruh gendong lansia di Yogyakarta yang umumnya memiliki keterbatasan pendidikan, minim tabungan, dan tekanan ekonomi, sehingga tetap bekerja di usia senja. Ironisnya, sebagian dari mereka justru terjerat utang pinjaman online maupun rentenir akibat kurangnya pemahaman terhadap risikonya. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, angka pinjaman macet pada kelompok usia di atas 54 tahun meningkat hingga 104 persen, yang sebagian besar berasal dari sektor informal.
Salah satu momen yang menarik dalam pelatihan ini adalah ketika peserta diminta membuat poster mengenai pengalaman mereka menggunakan ponsel pintar. Diskusi berlangsung hangat dan penuh keakraban, namun tetap serius saat membahas berbagai kasus penipuan.
Salah satu peserta, Hamidah (55), mengungkapkan bahwa setelah mengikuti pelatihan, ia dan rekan-rekannya menjadi lebih memahami ciri-ciri pinjaman online berbahaya serta lebih berhati-hati dalam membagikan data pribadi di media sosial. Ia juga berkomitmen untuk memberikan pengetahuan yang diperoleh kepada sesama buruh gendong agar tidak mudah tertipu.
Secara umum, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan buruh gendong dalam memanfaatkan teknologi secara aman dan bijak, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan praktis dalam mengelola keuangan sehari-hari agar terhindar dari jeratan hutang dan penipuan digital. Program ini juga memiliki visi untuk memberdayakan buruh gendong sebagai agen literasi sejawat yang mampu menyebarkan pengetahuan di lingkungannya, mengurangi kesenjangan digital dan finansial, serta mendorong kemandirian ekonomi yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) melalui pendidikan inklusif dan literasi sepanjang hayat.
Safirotu Khoir, PhD., salah satu tim peneliti, menyampaikan bahwa di tengah pesatnya perkembangan era digital, pelatihan literasi digital dan keuangan ini diharapkan dapat menjadi sarana perlindungan sekaligus harapan bagi kelompok marjinal agar memperoleh akses terhadap pendidikan, perlindungan, dan kesempatan hidup yang lebih sejahtera.
(Surono)


