
Yogyakarta, 24 Februari 2026 — Tim peneliti Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai oleh Dr. Najmu Tsaqib Akhda, melakukan kunjungan lapangan ke Kelompok Wanita Tani (KWT) Jaya Mandiri Abadi di Dusun Ngancar, Tridadi, Sleman. Kunjungan ini menjadi bagian penting dari penelitian berjudul “Pengembangan Model Pertanian Terintegrasi Berbasis Kearifan Lokal sebagai Model Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan (Studi Kasus Lumbung Mataraman di Daerah Istimewa Yogyakarta)”.
Dalam riset yang mencakup seluruh kabupaten di DIY, setiap wilayah dipilih satu kelompok sebagai sampel representatif. KWT Jaya Mandiri Abadi ditunjuk sebagai perwakilan Sleman karena memiliki praktik aktif Lumbung Mataraman dan sistem pertanian terintegrasi (integrated farming) yang berjalan berkelanjutan.
Ketua KWT Jaya Mandiri Abadi Siti Sugiyati mengatakan bahwa kegiatan Lumbung Mataraman berawal dari menanam di pekarangan berupa komoditas cabai, sawi, kangkung, hingga timun baby, kini KWT juga memiliki 2 kolam terpal perikanan lele dan peternakan ayam sebanyak 320 ekor.
“KWT ini Berdiri sejak 5 Januari 2015, KWT ini dibentuk atas inisiasi ibu-ibu PKK dan kini terdapat 16 anggota aktif. Mereka mengelola berbagai komoditas hortikultura, perikanan lele, serta peternakan ayam. Sistem closed-loop agriculture tampak diterapkan, mulai dari pemanfaatan limbah organik sebagai pupuk hingga integrasi kolam ikan untuk menyuburkan tanaman” tutur Bu Siti Sugiyati.
Menurut Najmu yang juga dosen Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana ini, keberadaan Lumbung Mataraman menjadi pusat kegiatan sekaligus simbol ketahanan pangan lokal yang berpijak pada filosofi: “Nandur Apa Sing Dipangan, Mangan Apa Sing Ditandur.” (Menanam apa yang dimakan, memakan apa yang ditanam)
“Hasil penelitian mencatat bahwa praktik di KWT Jaya Mandiri Abadi memperkuat aspek keberlanjutan sosial, ekonomi, lingkungan, dan budaya, serta menjadi bukti kuat peran pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan pangan komunitas. Modal sosial seperti kepercayaan, gotong royong, dan jejaring komunitas menjadi pondasi penting keberlangsungan lumbung” tambah Najmu.
Selain memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal, aktivitas KWT Jaya Mandiri Abadi juga selaras dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 5 (Kesetaraan Gender), dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Praktik pertanian terintegrasi yang mereka jalankan tidak hanya meningkatkan ketersediaan pangan sehat di komunitas, tetapi juga memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan terkait produksi pangan. Penggunaan limbah organik sebagai pupuk, integrasi kolam ikan dengan kebun, serta pola konsumsi berbasis produksi lokal menunjukkan kontribusi nyata terhadap pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Sumber: Najmu Tsaqib Akhda
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: Najmu Tsaqib Akhda