
Program Studi Agama dan Lintas Budaya (ALB) atau Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM), kembali menyelenggarakan Wednesday Forum pada Rabu, 22 April 2026, bertempat di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM Unit 1. Kegiatan ini merupakan forum akademik terbuka yang menghadirkan diskusi lintas disiplin mengenai isu-isu sosial, budaya, lingkungan, dan keadilan global.
Pada kesempatan ini, CRCS UGM menghadirkan Martha Hesty Susilowati sebagai pembicara. Ia merupakan seorang profesional dan peneliti yang telah lebih dari satu dekade berkarya di bidang psikologi, kesetaraan gender, serta ilmu sosial. Kariernya menghubungkan kajian akademik dengan kerja lapangan, dengan fokus pada isu gender, intervensi berbasis komunitas, kerangka dekolonial, serta sistem pengetahuan masyarakat adat. Saat ini, ia berperan sebagai Gender & Social Inclusion Consultant dengan pengalaman luas dalam penelitian partisipatoris, asesmen komprehensif, serta penyusunan kebijakan perlindungan (safeguarding policies) untuk organisasi non-pemerintah internasional dan perusahaan energi. Portofolio penelitiannya mencakup publikasi ilmiah bereputasi dan presentasi konferensi yang secara kritis membahas isu-isu dalam studi ilmu sosial dan studi perempuan.
Dalam pemaparannya, Martha Hesty Susilowati mengangkat tema “Geothermal Narratives and Grassroots Resistance in Indonesia: Decolonial Frameworks for Energy Transitions and Environmental Justice.” Studi ini menelaah narasi energi hijau yang digunakan oleh kelompok penolak pengembangan energi geothermal di Indonesia, serta bagaimana narasi tersebut dibentuk dan diartikulasikan dalam gerakan sosial berbasis komunitas.
Ia menjelaskan bahwa perdebatan mengenai transisi energi tidak hanya bersifat teknis dan kebijakan, tetapi juga berakar pada cara pandang terhadap relasi manusia dan alam. Perspektif dekolonial digunakan untuk melihat sejauh mana transisi energi memperkuat atau justru mendekonstruksi relasi kuasa yang memandang alam sebagai komoditas, sekaligus meminggirkan komunitas terdampak. Pendekatan ini juga memperkaya teori gerakan sosial dengan mengangkat pengalaman dan narasi masyarakat adat serta komunitas lokal.
Penelitian ini melibatkan peneliti berbasis komunitas di 14 lokasi terdampak proyek geothermal yang bekerja sama dalam pengumpulan dan refleksi data. Hasil studi menunjukkan adanya perbedaan narasi antara energy coloniality dan decoloniality dalam enam aspek utama, yaitu definisi energi hijau, dampak lingkungan, kepemilikan kebijakan energi hijau, aspek sosial budaya, kebijakan pembangunan nasional, serta prioritas pembangunan lokal. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa gerakan penolakan masyarakat mencerminkan praktik dekolonial dalam melihat ulang relasi energi dan keadilan.
Kegiatan ini juga menyoroti bagaimana ketegangan geopolitik global, termasuk dinamika di kawasan Selat Hormuz, turut mendorong percepatan transisi menuju energi alternatif seperti geothermal. Namun demikian, muncul pertanyaan kritis mengenai siapa yang sebenarnya diuntungkan dari narasi “energi hijau” tersebut.
“Transisi energi perlu dilihat bukan hanya sebagai agenda teknis, tetapi sebagai ruang politik di mana relasi kuasa, pengetahuan, dan keadilan sosial dipertarungkan,” ungkap Martha Hesty Susilowati.
Forum ini mengajak peserta untuk memahami bahwa isu energi tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan keberlanjutan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial, relasi kuasa, serta cara manusia memaknai alam. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan menghadirkan ruang dialog kritis bagi akademisi, mahasiswa, dan masyarakat.
Penulis: Asti Rahmaningrum