Yogyakarta, 7 September 2026 — Guna mengoptimalkan potensi pariwisata perdesaan, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Magister (S2) Pariwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) menyelenggarakan koordinasi dan survei lapangan di Giriloyo pada Sabtu, 5 September 2026. Pertemuan ini berfokus pada persiapan kegiatan visit to destination yang bertujuan mempertemukan wisatawan dengan potensi lokal secara langsung. Seluruh pemangku kepentingan berkumpul untuk mendiskusikan pemetaan masalah, jaring aspirasi warga, serta penentuan objek wisata utama dan pendukung. Berbeda dari paket wisata konvensional, program ini menempatkan masyarakat setempat sebagai eksekutor utama dalam penyelenggaraan kegiatan. Kehadiran tim akademisi UGM bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) diharapkan mampu mendorong kemandirian tata kelola destinasi lokal.
Fokus utama pengembangan program ini adalah penataan konsep Wisata Pekarangan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Edukasi wisata yang ditawarkan tidak sebatas kegiatan panen semata, melainkan mencakup rantai proses pertanian secara utuh mulai dari perbenihan hingga pascapanen. Sebagai nilai tambah, rangkaian kegiatan dilengkapi dengan pengalaman farm to table atau memasak langsung dari hasil panen, pertunjukan musik lokal, serta pengenalan potensi keanekaragaman hayati desa. Tanaman Srigunggu sebagai bahan terapi tradisional gurah diproyeksikan menjadi ikon khas desa yang dipadukan dengan edukasi tanaman pewarna alami dan proses membatik di pekarangan warga. Pengemasan paket wisata edukatif ini dirancang agar memberi pengalaman autentik sekaligus meningkatkan kesadaran konservasi lingkungan.
Pelaksanaan kegiatan visit to destination dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, berlokasi di Gazebo Giriloyo mulai pukul 08.00 WIB. Agenda ini ditargetkan melibatkan 20 peserta yang terdiri atas wisatawan mancanegara dan nusantara bersama tim Pokdarwis serta SPs UGM. Untuk memastikan kelancaran operasional di lapangan, pembagian peran penanggung jawab (PIC) telah ditetapkan yang mencakup pengelolaan kupon atraksi, distribusi, desain media, hingga pendampingan peserta. Mekanisme partisipasi masyarakat didukung melalui sistem kupon berbasis potensi di lima pekarangan warga serta Kelompok Wanita Tani (KWT). Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat pengorganisasian komunitas dan menciptakan model pariwisata inklusif yang berkelanjutan.

