Kebumen, 12 Juli 2025 — Mahasiswa Magister Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyu Rahtawu dan Angeline Louisabethania, mengikuti The 6th Geotourism Festival and International Conference (Geofest 2025) yang diselenggarakan pada 9–12 Juli 2025 di Kebumen, Jawa Tengah.
Mengusung tema “Discovering Geological Wonders: Promoting Geotourism and Resilience”, Geofest 2025 menjadi forum internasional untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan gagasan mengenai pengembangan geowisata, pengelolaan geopark, serta penguatan ketahanan destinasi pariwisata.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Jaringan Geopark Indonesia (JGI), Jaringan Geopark Malaysia (MGN), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), dan Masyarakat Geowisata Indonesia (MAGI), berkolaborasi dengan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark, Kebumen UNESCO Global Geopark, dan Langkawi UNESCO Global Geopark.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pertunjukan budaya dan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan sesi panel yang menghadirkan pembicara dari Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia. Forum tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk memperluas wawasan mengenai praktik pengembangan geowisata dari berbagai perspektif dan negara.
Dalam kesempatan tersebut, Wahyu dan Angeline juga bertemu dengan Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D., Kaprodi Doktor Kajian Pariwisata SPs UGM, yang turut menjadi panelis dalam konferensi. Kehadiran akademisi dan mahasiswa dalam forum yang sama menjadi ruang untuk memperkuat interaksi akademik sekaligus membangun jejaring dalam bidang kajian pariwisata.
Tidak hanya mengikuti sesi konferensi, kedua mahasiswa tersebut turut mempresentasikan artikel mengenai upaya mewujudkan pariwisata inklusif di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran. Kajian tersebut menggali kompetensi pemandu wisata dalam mendampingi wisatawan dengan gangguan sensorik sebagai bagian dari upaya menciptakan pengalaman wisata yang lebih inklusif dan setara.
Pada hari terakhir, peserta mengikuti field trip untuk mengenal berbagai potensi destinasi di kawasan Geopark Kebumen. Kegiatan diawali dengan susur Sungai Rahayu Sendangdalem, dilanjutkan dengan kunjungan ke perkebunan yang dikembangkan sebagai Agrowisata Kelengkeng serta pengalaman memanen buah kelengkeng.
Rangkaian perjalanan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pelepasan tukik di Pantai Lembupurwo. Peserta selanjutnya menikmati suasana senja dan makan malam bersama di Pantai Menganti.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan akademik mengenai geowisata dan pariwisata inklusif, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam memahami pengelolaan destinasi berbasis alam dan masyarakat.
Keikutsertaan dalam Geofest 2025 menjadi kesempatan bagi mahasiswa Magister Kajian Pariwisata SPs UGM untuk memperluas jejaring akademik dan profesional, sekaligus memperkaya perspektif mengenai pengembangan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berketahanan.
Penulis: Angeline Louisabethania
Editor: Arfikahi



