Yogyakarta, 29 Juni 2026 – Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) sukses menyelenggarakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tahun 2026 di wilayah Pantai Utara Jawa, khususnya Kabupaten Pati dan Rembang. Kegiatan penelitian lapangan ini berlangsung secara intensif pada tanggal 22 hingga 25 Juni 2026 dengan melibatkan puluhan mahasiswa dan dosen pembimbing. Dalam KKL kali ini, para mahasiswa pascasarjana diterjunkan langsung untuk mengamati, mengukur, dan menganalisis berbagai problematika lingkungan yang kompleks di kawasan pesisir. Observasi partisipatif dan pemetaan data spasial dilakukan secara komprehensif untuk memvalidasi kondisi faktual yang dialami oleh masyarakat setempat. Kegiatan ini menjadi momentum krusial untuk menghubungkan teori akademik dari ruang kelas dengan realitas tantangan ekologis di lapangan.
Riset lapangan ini mengusung pendekatan multidisiplin yang terbagi ke dalam empat kelompok besar kajian, yakni aspek fisik, biotik, sosial, dan teknologi terapan. Pada kelompok fisik, penelitian difokuskan untuk mengkaji tingkat abrasi pantai, perluasan intrusi air laut ke sumur warga, serta pemetaan kerentanan banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana. Sementara itu, kelompok biotik secara khusus meneliti potensi cadangan karbon di ekosistem mangrove Pasar Banggi, mendata struktur vegetasi, dan mengidentifikasi keanekaragaman spesies avifauna. Data-data yang dikumpulkan dari kawasan perairan dan daratan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai daya dukung lingkungan setempat. Integrasi dari berbagai variabel ini dinilai sangat penting untuk memahami rantai sebab-akibat dari degradasi lingkungan yang sedang terjadi.
Selain menganalisis kondisi alam, kegiatan KKL ini juga menyoroti aspek sosial-ekonomi dan penerapan teknologi pembangunan berkelanjutan di masyarakat. Para mahasiswa memetakan kualitas lingkungan permukiman warga untuk melihat korelasi antara kondisi ekonomi dengan akses terhadap sanitasi dan tata ruang hunian yang layak. Di samping itu, evaluasi terhadap teknologi pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, dan infrastruktur penanggulangan banjir juga dilakukan guna mencari solusi yang bersifat adaptif. Berdasarkan temuan di lapangan, masih terdapat kesenjangan antara penyediaan infrastruktur makro oleh pemerintah dengan ketersediaan teknologi tepat guna di tingkat komunitas warga. Oleh sebab itu, diperlukan berbagai inovasi teknologi terapan yang berbiaya rendah dan mudah dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat pesisir.
Penyelenggaraan Kuliah Kerja Lapangan ini membuktikan komitmen kuat Magister Ilmu Lingkungan SPs UGM dalam merespons ancaman krisis iklim secara nyata dan terukur. Hasil sintesis dari mini riset ini nantinya akan disusun menjadi sebuah dokumen rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah terkait kebijakan mitigasi bencana dan tata ruang wilayah. Upaya akademik ini berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam memberikan pendidikan berkualitas melalui pengalaman riset lapangan terpadu (SDG 4). Kajian mendalam mengenai kelayakan hunian dan tata kelola infrastruktur pesisir sangat mendukung upaya terwujudnya kota dan permukiman yang berkelanjutan (SDG 11). Lebih jauh, riset mangrove dan tata kelola air tanah ini menjadi manifestasi dari aksi nyata penanganan perubahan iklim (SDG 13) sekaligus upaya pelestarian ekosistem lautan (SDG 14).
Penulis: Berlian Belasuni










