Chiang Mai, Thailand — Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Pinasti Almi Kusuma, S.Psi., bersama tim peneliti CRCS UGM berpartisipasi dalam Asia Region Anti-Trafficking (ARAT) Conference yang diselenggarakan pada 21–23 Juli 2026 di The Empress Hotel/Empress Convention Centre, Chiang Mai, Thailand.
Konferensi regional tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, praktisi, aktivis, organisasi masyarakat sipil, serta penyintas dari berbagai negara untuk membahas isu modern slavery and human trafficking (MSHT) dan pengembangan pendekatan yang lebih responsif terhadap pengalaman penyintas.
Dalam forum tersebut, tim peneliti CRCS UGM mempresentasikan temuan awal penelitian berjudul “Trauma in a Majority-World Context: Understanding Diverse Survivor Experiences and Improving Organizational Capacity”, yang merupakan hasil kolaborasi antara UGM dan The Salvation Army.
Penelitian ini berupaya memahami bagaimana penyintas MSHT memaknai pengalaman trauma dalam konteks budaya dan agama yang beragam. Kajian tersebut berangkat dari perhatian terhadap dominannya perspektif psikologi yang dikembangkan dalam konteks WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, and Democratic), sementara pengalaman masyarakat di negara-negara Majority World memiliki konteks sosial, budaya, dan keagamaan yang berbeda.
Temuan awal penelitian menunjukkan bahwa trauma tidak selalu dimaknai dengan cara yang seragam. Dalam konteks religius, misalnya, pengalaman traumatis dapat dipahami sebagai takdir, ujian, kehendak Tuhan, serangan spiritual, hukuman Tuhan, maupun pengalaman kehancuran secara batin. Sementara dalam konteks budaya dan sosial, trauma dapat muncul melalui tekanan emosional, kecenderungan menyalahkan diri sendiri, hingga normalisasi terhadap kekerasan dan eksploitasi.
Salah satu pengalaman yang muncul dalam penelitian menunjukkan bagaimana kekerasan yang terjadi secara berulang dalam suatu komunitas dapat dipandang sebagai sesuatu yang biasa dan dinormalisasi. Di sisi lain, terdapat penyintas yang memaknai pengalaman masa lalunya dengan tidak menyalahkan Tuhan maupun orang lain, karena keputusan yang diambil pada saat itu dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi.
Penelitian ini melibatkan 47 responden survei, 22 peserta listening dialogue, 12 penyintas dalam wawancara, dan 6 staf dalam wawancara. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya penerapan trauma-informed practice yang tidak seragam, melainkan mempertimbangkan latar belakang budaya, agama, serta cara setiap individu memaknai pengalaman kekerasan yang dialaminya.
Keikutsertaan dalam ARAT Conference juga menjadi ruang bagi CRCS UGM untuk memperkuat jejaring akademik dan kolaborasi internasional sekaligus memperkaya perspektif dalam memahami isu trauma, perdagangan manusia, dan perbudakan modern. Perspektif psikologi, studi agama, dan kajian lintas budaya menjadi penting untuk membangun pendekatan yang lebih kontekstual dan berpusat pada pengalaman penyintas.
Kegiatan ini diikuti oleh tim UGM yang terdiri atas Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf, Dr. Jonathan Davis Smith, Leyla Adrianti Hermina, M.A., Lucia Peppy Novianti, M.Psi., Psikolog, dan Pinasti Almi Kusuma, S.Psi. Kegiatan juga melibatkan mitra internasional, antara lain Prof. Emma Tomalin dari University of Leeds, United Kingdom; Phoebe Burton dari The Salvation Army United Kingdom & Ireland; serta Dr. Courtney Skiera-Vaughn, Trauma-Informed Practice Consultant dari United States of America.
Melalui forum ini, CRCS UGM menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan kajian interdisipliner dan memperkuat kontribusi akademik dalam memahami persoalan kemanusiaan, khususnya melalui perspektif agama, budaya, dan pengalaman penyintas.
Penulis: Pinasti Almi Kusuma
Editor: Arfikah Istari

