Yogyakarta, 29 September 2026 – Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) menyelenggarakan Public Talk Show bertema “Human Flourishing: Kajian Human Flourishing dari Multi Perspektif” pada Selasa (29/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 5 SPs UGM ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan institusi untuk membahas human flourishing dari beragam perspektif.
Public Talk Show menghadirkan Romo Dr. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D. dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta; Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D. dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes. dari Human Flourishing Center UGM; Samantha Hauw, Ph.D. dari Deakin University, Australia; serta Dr. Dicky Sofjan dari YADEMA, Globethics, dan IRS UGM. Diskusi dipandu oleh Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D. dari Human Flourishing Center UGM.
Dalam pemaparannya, Romo Dr. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D. membahas human flourishing dari perspektif Katolik. Ia menjelaskan bahwa meskipun istilah human flourishing bukan merupakan istilah teknis dalam teologi Katolik, gagasan tersebut memiliki akar dalam tradisi Katolik, salah satunya melalui gagasan tentang kehidupan dalam kelimpahan. Ia juga menekankan pentingnya relasi manusia dengan diri sendiri, sesama, dan ciptaan dalam memahami kehidupan yang utuh.
Perspektif Islam disampaikan oleh Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D. melalui konsep insan kamil atau kemanusiaan paripurna. Konsep tersebut menekankan keseimbangan kehidupan manusia dalam dimensi individual, sosial, dan spiritual, baik dalam kedudukannya sebagai hamba maupun sebagai khalifah.
Perspektif kesehatan dan kehidupan disampaikan oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes. Ia menyoroti pentingnya melihat kualitas hidup tidak hanya berdasarkan kemakmuran atau kapasitas finansial, tetapi juga melalui aspek kesehatan, makna dalam pekerjaan, karakter, kebajikan, dan keterhubungan sosial. Menurutnya, pengembangan kajian human flourishing juga berkaitan dengan isu sumber daya manusia, hubungan antaragama dan antarbudaya, serta pendidikan sepanjang hayat melalui kolaborasi lintas institusi.
Samantha Hauw, Ph.D. dari Deakin University, Australia, membahas human flourishing melalui perspektif kesejahteraan sosial dan masyarakat adat Australia. Ia menjelaskan bahwa human flourishing mencakup kesehatan fisik dan mental, kebahagiaan, kepuasan hidup, makna dan tujuan hidup, karakter, relasi sosial, serta stabilitas finansial. Dalam perspektif masyarakat adat Australia, kesejahteraan manusia juga memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan. Kesehatan manusia dan lingkungan dipandang sebagai dua hal yang saling berkaitan.
Sementara itu, Dr. Dicky Sofjan menyoroti keterkaitan antara religiositas, meaning and purpose in life, dan human flourishing. Ia menjelaskan bahwa makna dan tujuan hidup serta hubungan sosial menjadi bagian penting dalam memahami kesejahteraan manusia di Indonesia. Ia juga mengaitkan character and virtue dengan kemampuan menunda kepuasan serta nilai-nilai keagamaan. Selain itu, Dicky menyoroti pentingnya memasukkan dimensi ekologis dalam pembahasan human flourishing, termasuk gagasan mengenai keseimbangan hubungan antara manusia dan lingkungan dalam berbagai tradisi budaya dan keagamaan di Indonesia.
Beragam perspektif yang disampaikan dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa human flourishing memiliki cakupan yang luas, mulai dari kesehatan, spiritualitas, hubungan sosial, makna dan tujuan hidup, pendidikan, hingga relasi manusia dengan lingkungan. Kegiatan ini diikuti oleh civitas akademika SPs UGM. Melalui diskusi lintas perspektif, Public Talk Show menjadi ruang untuk memperluas pemahaman mengenai human flourishing, baik sebagai bagian dari kesejahteraan individu maupun dalam kaitannya dengan kehidupan sosial, spiritual, dan ekologis.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Sri Pangesti Tuhu

