Program Studi S2 dan S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan (PKP), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui kuliah lapangan pada 26 April 2026 di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung di Desa Wisata Purwosari, Girimulyo, serta Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Jatisarono, Nanggulan.
Sebanyak 30 mahasiswa dan 10 dosen turut serta dalam kegiatan ini sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual untuk memahami secara langsung praktik pemberdayaan masyarakat. Kunjungan diawali di kawasan Kopi Menoreh Tumpangsari, Desa Wisata Girimulyo, yang disambut dengan pertunjukan Tari Angguk sebagai representasi identitas budaya lokal. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke KDK Jatisarono yang dibuka melalui penampilan seni pantomim oleh salah satu penyandang difabel.
Ketua Program Studi S3 PKP UGM, Dr. Alia Bihrajihant Raya, dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi antara akademisi dan masyarakat dalam mendorong pembangunan berbasis partisipasi dan kearifan lokal. Ia menekankan bahwa kolaborasi semacam ini menjadi kunci dalam menciptakan model pemberdayaan yang berkelanjutan.
Desa Wisata Purwosari sendiri telah berkembang sejak tahun 2014 dengan mengusung konsep agroeduwisata berbasis konservasi dan budaya. Melalui Kelompok Kopi Menoreh Tumpangsari, masyarakat setempat berhasil meningkatkan nilai tambah komoditas kopi dengan menerapkan sistem panen selektif serta pengolahan terpadu. Pendekatan insentif ekonomi yang diterapkan terbukti mampu mengubah perilaku petani menjadi lebih berorientasi pada kualitas produk. Menariknya sekelompok anak muda yang memiliki keresahan atas permasalahan di desanya mampu mengajak seluruh warga untuk mengubah kebiasaan usaha taninya menjadi lebih berdaya saing. Kebiasaan baru yang dikelola dengan konsisten, akhirnya mampu mengantarkan Desa Purwosari menjadi rujukan wisata berbasis pertanian yang kaya akan biodiversitas.
Kunjungan selanjutnya dilaksanakan di KDK (Kelompok Difabel Kelurahan) Jatisarono menghadirkan model pemberdayaan inklusif berbasis human-centered dengan melibatkan sekitar 150 anggota yang terdiri dari penyandang difabel dan pendamping. Beragam kegiatan produktif seperti kerajinan anyaman, pengolahan jamur, serta pengembangan seni menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas sekaligus membangun kepercayaan diri anggota. Kegiatan di KDK ini diinisiasi oleh SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel) Yogyakarta. S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan saat ini juga ramah difabel dengan mendampingi dua mahasiswa difabel yang sedang studi di prodi ini.
Inklusivitas Prodi S2 dan S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan juga ditunjukkan dalam bentuk dukungan nyata, Universitas Gadjah Mada juga memberikan bantuan operasional kepada KDK Jatisarono guna memperkuat keberlanjutan program pemberdayaan yang telah berjalan.
Kegiatan kuliah lapang ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam aspek pengentasan kemiskinan, pengurangan ketimpangan, serta pembangunan komunitas yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam konteks nyata di masyarakat.
Kegiatan ini selaras dengan penerapan SDGs nomor 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, Nomor 4 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, nomor 17, Kerjasama untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Natasya, Arni W
Editor: Dr. Alia Bihrajihant Raya




