• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • IT Center
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Posisi
    • Keunggulan
    • Struktur Organisasi
    • Layanan dan Fasilitas
    • Kehidupan Kampus
    • Kontak
  • PPID
    • Informasi Publik
      • Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan secara Berkala
      • Informasi Tersedia Setiap Saat
      • Daftar Informasi Dikecualikan
    • Layanan Informasi
      • Alur dan Prosedur Permohonan Informasi
      • Alur dan Prosedur Pengajuan Keberatan atas Informasi
      • Prosedur dan Tatacara Penyelesaian Sengketa
      • Maklumat Pelayanan Informasi Publik
  • Akademik
    • Pengumuman
    • Dokumen Akademik
    • Kalender Akademik
  • Admisi
    • Program Studi
    • Beasiswa
    • Syarat Pendaftaran
    • Prosedur Pendaftaran
    • Biaya Pendidikan (UKT)
    • Registrasi
  • Kegiatan
    • Agenda
    • Berita
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Survei Layanan
  • Beranda
  • Berita
  • Wednesday Forum CRCS UGM Bahas Pemaknaan Borobudur melalui Pendekatan Komprehensif

Wednesday Forum CRCS UGM Bahas Pemaknaan Borobudur melalui Pendekatan Komprehensif

  • Berita
  • 8 Juni 2026, 10.36
  • Oleh: pudji_w
  • 0
Sumber Foto: Wikimedia Commons, File: Borobudur temple.jpg oleh Syselpunk (CC BY-SA 4.0)

Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) secara rutin menyelenggarakan kegiatan Wednesday Forum. Melalui Wednesday Forum, CRCS UGM terus menghadirkan ruang dialog akademik yang mempertemukan berbagai perspektif untuk membahas isu-isu agama, budaya, sejarah, dan masyarakat secara kritis dan multidisipliner.

Wednesday Forum yang diselenggarakan pada Rabu (20/5) di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM Unit 1 kali ini menghadirkan Hudaya Kandahjaya, peneliti dan akademisi yang telah lama menekuni studi Buddhisme dan Borobudur, untuk membahas tema “How Should Borobudur Be Understood?”.

Dalam paparannya, Hudaya mengajak peserta untuk melihat Borobudur secara lebih utuh dan melampaui berbagai interpretasi parsial yang selama ini berkembang. Menurutnya, sebagai candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur merupakan karya monumental yang dirancang secara terorganisasi, sistematis, dan harmonis. Namun demikian, pemahaman terhadap monumen tersebut kerap diwarnai berbagai perbedaan pandangan, mulai dari sejarah penemuannya hingga makna keseluruhan bangunan dan simbolismenya.

Hudaya menjelaskan bahwa sejumlah penelitian mengenai Borobudur masih berfokus pada aspek-aspek tertentu dari bangunan tersebut atau menggunakan asumsi yang belum didukung data yang memadai. Akibatnya, interpretasi yang dihasilkan sering kali tidak mampu menjelaskan Borobudur sebagai satu kesatuan yang utuh.

“Borobudur memiliki berbagai fitur yang saling terhubung dan tidak dapat direduksi hanya pada satu aspek tertentu. Untuk memahaminya diperlukan pendekatan yang mampu melihat keseluruhan struktur dan hubungan antar unsurnya,” ujarnya.

Lulusan Statistika Terapan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini telah mengkaji Borobudur selama puluhan tahun. Setelah menerjemahkan karya Buddhist Philosophy karya David J. Kalupahana pada 1986, Hudaya aktif menulis dan mempublikasikan berbagai penelitian mengenai Borobudur dan Buddhisme Indonesia. Salah satu karyanya yang dikenal luas adalah The Master Key to Borobudur Symbolism yang terbit pada 1995. Pada 2025, ia juga menulis entri tentang Borobudur untuk Oxford Encyclopedia of Buddhism.

Dalam forum tersebut, Hudaya menekankan pentingnya penggunaan metodologi penelitian yang tepat serta pengolahan data yang cermat dalam memahami Borobudur. Menurutnya, pendekatan yang komprehensif tidak hanya dapat menghindarkan peneliti dari spekulasi yang bersifat anakronistik, tetapi juga membantu mengungkap gagasan, pengetahuan, dan keterampilan para pembangun Borobudur yang berhasil memadukan berbagai elemen menjadi sebuah karya yang harmonis.

Penulis: Asti Rahmaningrum

Tags: SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Recent Posts

  • Wednesday Forum CRCS UGM Bahas Pemaknaan Borobudur melalui Pendekatan Komprehensif
  • Wednesday Forum CRCS UGM Bahas Peran Perempuan dalam Sasi dan Mitigasi Perubahan Iklim
  • SPs UGM Terima Kunjungan BRIDA Kabupaten Muara Enim, Bahas Peluang Kerja Sama Pengembangan Mining Tourism
  • Pergelaran “Taru Atutur”: Perayaan Dies Natalis PSPSR UGM ke-35
  • Gelar Wicara Bahas Integrasi Layanan Spiritual, Psikologis, dan Medis dalam Pendekatan Kesehatan Mental Holistik
Universitas Gadjah Mada
Sekolah Pascasarjana
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (0274) 544975, 564239
Email : sps@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju