
Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) secara rutin menyelenggarakan kegiatan Wednesday Forum. Melalui Wednesday Forum, CRCS UGM terus menghadirkan ruang dialog akademik yang mempertemukan berbagai perspektif untuk membahas isu-isu agama, budaya, sejarah, dan masyarakat secara kritis dan multidisipliner.
Wednesday Forum yang diselenggarakan pada Rabu (20/5) di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM Unit 1 kali ini menghadirkan Hudaya Kandahjaya, peneliti dan akademisi yang telah lama menekuni studi Buddhisme dan Borobudur, untuk membahas tema “How Should Borobudur Be Understood?”.
Dalam paparannya, Hudaya mengajak peserta untuk melihat Borobudur secara lebih utuh dan melampaui berbagai interpretasi parsial yang selama ini berkembang. Menurutnya, sebagai candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur merupakan karya monumental yang dirancang secara terorganisasi, sistematis, dan harmonis. Namun demikian, pemahaman terhadap monumen tersebut kerap diwarnai berbagai perbedaan pandangan, mulai dari sejarah penemuannya hingga makna keseluruhan bangunan dan simbolismenya.
Hudaya menjelaskan bahwa sejumlah penelitian mengenai Borobudur masih berfokus pada aspek-aspek tertentu dari bangunan tersebut atau menggunakan asumsi yang belum didukung data yang memadai. Akibatnya, interpretasi yang dihasilkan sering kali tidak mampu menjelaskan Borobudur sebagai satu kesatuan yang utuh.
“Borobudur memiliki berbagai fitur yang saling terhubung dan tidak dapat direduksi hanya pada satu aspek tertentu. Untuk memahaminya diperlukan pendekatan yang mampu melihat keseluruhan struktur dan hubungan antar unsurnya,” ujarnya.
Lulusan Statistika Terapan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini telah mengkaji Borobudur selama puluhan tahun. Setelah menerjemahkan karya Buddhist Philosophy karya David J. Kalupahana pada 1986, Hudaya aktif menulis dan mempublikasikan berbagai penelitian mengenai Borobudur dan Buddhisme Indonesia. Salah satu karyanya yang dikenal luas adalah The Master Key to Borobudur Symbolism yang terbit pada 1995. Pada 2025, ia juga menulis entri tentang Borobudur untuk Oxford Encyclopedia of Buddhism.
Dalam forum tersebut, Hudaya menekankan pentingnya penggunaan metodologi penelitian yang tepat serta pengolahan data yang cermat dalam memahami Borobudur. Menurutnya, pendekatan yang komprehensif tidak hanya dapat menghindarkan peneliti dari spekulasi yang bersifat anakronistik, tetapi juga membantu mengungkap gagasan, pengetahuan, dan keterampilan para pembangun Borobudur yang berhasil memadukan berbagai elemen menjadi sebuah karya yang harmonis.
Penulis: Asti Rahmaningrum