Yogyakarta, 20 Februari 2026-Koleksi museum kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai benda mati yang dipamerkan di balik etalase kaca, melainkan entitas budaya dinamis yang terus dihidupkan pemaknaannya. Semangat inilah yang mengemuka dalam gelaran perdana International Museum Forum bertajuk “Heritagisation of Museum Collections” yang diselenggarakan di Museum Ullen Sentalu, Sleman, pada Selasa (10/2). Acara yang berlangsung secara bilingual ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Museum Ullen Sentalu, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, The British Museum London, Fakultas Ilmu Budaya UGM, serta Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Mengusung tema utama tentang heritagisasi, forum ini menyoroti pentingnya proses pewarisan nilai untuk menghidupkan kembali berbagai artefak sejarah. Proses pelestarian budaya ini ditekankan tidak hanya melalui pameran yang bersifat statis, tetapi harus melibatkan riset mendalam, pemaknaan ulang berkelanjutan, kolaborasi pertunjukan seni, hingga pendokumentasian ilmiah berupa prosiding yang komprehensif. Melalui partisipasi puluhan mahasiswa pascasarjana dan akademisi, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi wadah pertukaran pengetahuan yang menjembatani praktik museologi kontemporer dengan diskursus akademik di perguruan tinggi.
Dipandu oleh Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, M.Hum. selaku pembawa acara, forum ini membedah koleksi peninggalan masa lalu dari beragam sudut pandang para ahli. Kajian dimulai dari perspektif museologi oleh Daniel Haryono, M.Hum. yang juga bertindak sebagai moderator, dilanjutkan dengan pemaparan berharga dari GKR. Bendara, M.Sc. mengenai filosofi dan upaya pelestarian budaya di lingkungan keraton. Wawasan global kemudian dihadirkan oleh Kurator The British Museum, Dr. Alexandra Green, yang membahas aksesibilitas dan pengelolaan koleksi Asia Tenggara di London. Diskusi semakin mendalam ketika pakar sejarah UGM, Dr. Sri Margana, mengulas studi komparatif naskah Serat Damarwulan, disusul oleh analisis Dr. Rudy Wiratama terkait koleksi wayang awal abad ke-19 milik The British Museum. Rangkaian pemaparan ini ditutup oleh konklusi komprehensif dari Dr. G.R. Lono L. Simatupang yang menggarisbawahi urgensi sinergi antara museum sebagai pusat preservasi dan universitas sebagai pusat produksi pengetahuan.
Sesi diskusi interaktif diwarnai dengan antusiasme tinggi dari para peserta luring yang menyoroti berbagai isu krusial, mulai dari pemberian makna pada benda-benda warisan budaya hingga tantangan teknis konservasi seperti pencarian bahan baku pengganti kulit pada pembuatan wayang. Merespons dinamika diskusi tersebut, Dr. Alexandra Green memberikan pandangan penutup yang sangat menggugah mengenai pemaknaan sebuah objek bersejarah. Ia menegaskan bahwa tidak ada kebenaran tunggal dalam memandang sebuah artefak, karena objek yang sama dapat memiliki makna yang jauh berbeda bagi orang yang berbeda pula. Oleh karena itu, tugas utama institusi saat ini adalah melindungi, melestarikan, dan membuka akses seluas-luasnya dengan menyajikan seluruh narasi yang beragam tersebut kepada publik.
Penulis: Berlian Belasuni



