Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) terus mendorong penguatan wawasan global dan pengembangan keilmuan multidisipliner melalui penyelenggaraan kegiatan akademik yang melibatkan akademisi internasional. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui International Guest Lecture yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Bioetika dengan menghadirkan dua akademisi dari Baylor University, Amerika Serikat, pada Senin, 26 Oktober 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid di Ruang Sidang A Lantai 5 SPs UGM dan melalui platform Zoom ini menghadirkan Devan Stahl, Ph.D, Associate Professor of Bioethics and Religion, Baylor University, sekaligus Adjunct Associate Professor di Baylor College of Medicine, serta Paul Martens, Ph.D, Director of the Ethics Center dan Associate Professor of Ethics, Baylor University. Kehadiran kedua akademisi tersebut menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk memperoleh perspektif internasional mengenai perkembangan dan tantangan bioetika dalam bidang kesehatan maupun lingkungan.
Dalam sesi pertama, Devan Stahl, PhD, menyampaikan materi bertajuk “Ethics Committees and Consultation Services in North America”. Materi ini mengangkat pengalaman dan praktik penerapan komite etik serta layanan konsultasi etik dalam sistem pelayanan kesehatan di Amerika Utara. Pembahasan mencakup peran komite etik interdisipliner dalam membantu pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan menghadapi dilema etis, termasuk pentingnya komunikasi, penghormatan terhadap otonomi pasien, serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan.
Selanjutnya, Paul Martens, PhD, membawakan materi “Environmental Ethics and Human Flourishing: Sketching the Big Picture”. Dalam paparannya, ia mengajak peserta memperluas pemahaman mengenai bioetika dengan meninjau kembali pemikiran Van Rensselaer Potter yang memperkenalkan bioetika sebagai jembatan antara ilmu biologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Perspektif tersebut menegaskan bahwa persoalan etika tidak hanya berkaitan dengan praktik medis dan kesehatan individu, tetapi juga mencakup hubungan manusia dengan lingkungan serta keberlanjutan ekosistem. Dengan demikian, konsep human flourishing perlu dipahami secara menyeluruh dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kesehatan manusia, kehidupan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Kedua materi tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya cakupan bioetika sebagai bidang kajian yang bersinggungan dengan berbagai disiplin ilmu. Pertukaran perspektif antara akademisi internasional dan sivitas akademika SPs UGM juga membuka ruang diskusi kritis mengenai relevansi praktik dan pemikiran bioetika global dalam menjawab persoalan kesehatan dan lingkungan di Indonesia.
Penyelenggaraan kegiatan ini sekaligus mendukung komitmen SPs UGM dalam mengembangkan pendidikan pascasarjana yang berorientasi global dan berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan etika dalam pelayanan kesehatan berkaitan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), peningkatan kualitas pembelajaran melalui forum akademik internasional mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), sedangkan pembahasan etika lingkungan berkontribusi pada SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Selain itu, keterlibatan akademisi Baylor University turut mencerminkan upaya memperkuat kemitraan akademik internasional sebagaimana tercermin dalam SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui kegiatan ini, Sekolah Pascasarjana UGM berharap dapat terus memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama akademik internasional. Inisiatif semacam ini menjadi bagian dari upaya SPs UGM untuk menghadirkan pendidikan pascasarjana yang adaptif, inklusif, dan responsif terhadap berbagai tantangan global.
Penulis: Yeti Susilowati
