
Program Studi Magister Agama dan Lintas Budaya (CRCS) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) kembali menyelenggarakan Wednesday Forum pada Rabu, 2 September 2026. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Program Studi Doktor Inter-Religious Studies tersebut berlangsung di Gedung Unit 1, Sekolah Pascasarjana UGM, dengan menghadirkan Ikrana Ramadhani, lulusan Program Magister CRCS UGM, sebagai pembicara.
Dalam forum tersebut, Ikrana membagikan hasil penelitiannya bertajuk “Staying Present in the Face of Colonial Gaze: A Body Story” atau “Tetap Hadir dalam Menghadapi Tatapan Kolonial: Sebuah Kisah Tubuh.” Melalui penelitian ini, ia mengajak peserta melihat tubuh tidak hanya sebagai bagian dari pengalaman personal, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan.
Ikrana menelusuri pengalaman tubuhnya dalam berbagai ruang dan tahap kehidupan, termasuk di Sulawesi Selatan, Yogyakarta, dan Salzburg, Austria. Menurutnya, perpindahan ruang dan perubahan pengalaman hidup dapat memunculkan kembali berbagai respons tubuh yang sebelumnya tidak disadari. Sensasi seperti rasa takut, malu, keinginan untuk bersembunyi, hingga perubahan postur dan nafas menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana pengalaman sosial, budaya, dan keagamaan membentuk seseorang.
“Tubuh dan pikiran tidaklah terpisah, dan tidak ada satu yang lebih unggul dari yang lain. Keduanya bekerja bersama,” ujar Ikrana dalam menjelaskan pendekatan yang digunakan dalam penelitiannya.
Melalui pendekatan body story, Ikrana menggunakan pengalaman tubuh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana berbagai struktur sosial dan keagamaan dapat melekat dalam tubuh. Ia menggunakan teknik focusing dan body writing untuk memperhatikan sensasi tubuh secara lebih mendalam sebelum memberikan makna terhadap pengalaman yang muncul.
Diskusi semakin menarik ketika peserta mengajukan pertanyaan mengenai hubungan antara tubuh, trauma, identitas, hijab, serta proses menghasilkan pengetahuan akademik dari pengalaman personal. Ikrana menjelaskan bahwa penelitian tersebut tidak semata-mata merupakan upaya penyembuhan, tetapi juga menjadi proses belajar untuk memahami tubuh dan berbagai responsnya.
“Kita selalu belajar bagaimana mendengarkan tubuh. Hanya saja, sekarang saya memiliki pemahaman dan kesadaran yang lebih besar tentang bagaimana tubuh saya merespons sesuatu,” ungkapnya.
Ikrana juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi pengalaman tubuh dalam kajian akademik. Menurutnya, tubuh dapat menjadi sumber pengetahuan yang membantu memahami pengalaman manusia secara lebih mendalam, termasuk bagaimana relasi kuasa, norma sosial, dan pengalaman keagamaan dirasakan serta dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Asti Rahmaningrum