• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • IT Center
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Posisi
    • Keunggulan
    • Struktur Organisasi
    • Layanan dan Fasilitas
    • Kehidupan Kampus
    • Kontak
  • PPID
    • Informasi Publik
      • Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan secara Berkala
      • Informasi Tersedia Setiap Saat
      • Daftar Informasi Dikecualikan
    • Layanan Informasi
      • Alur dan Prosedur Permohonan Informasi
      • Alur dan Prosedur Pengajuan Keberatan atas Informasi
      • Prosedur dan Tatacara Penyelesaian Sengketa
      • Maklumat Pelayanan Informasi Publik
  • Akademik
    • Pengumuman
    • Dokumen Akademik
    • Kalender Akademik
  • Admisi
    • Program Studi
    • Beasiswa
    • Syarat Pendaftaran
    • Prosedur Pendaftaran
    • Biaya Pendidikan (UKT)
    • Registrasi
  • Kegiatan
    • Agenda
    • Berita
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Survei Layanan
  • Beranda
  • Berita
  • Agar Tak Sekadar Komoditas Politik, Peneliti SPs UGM Tawarkan Strategi Baru Kelola Program MBG

Agar Tak Sekadar Komoditas Politik, Peneliti SPs UGM Tawarkan Strategi Baru Kelola Program MBG

  • Berita
  • 8 April 2026, 08.34
  • Oleh: pudji_w
  • 0

Yogyakarta, 31 Maret 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) merilis hasil penelitian kebijakan strategis terkait diskursus tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Muhadjir Darwin, M.P.A., Ph.D., bersama mahasiswa Doktoral dan Magister Program Studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, M. Qur’anul Kariem, M.I.P. dan Ryan Alfitra, S.ST.

Penelitian tersebut menggunakan metode Delphi dalam dua putaran yang melibatkan 21 panelis ahli lintas disiplin, serta dilengkapi dengan wawancara mendalam yang dilakukan pada periode Agustus hingga Oktober 2025.

Hasil penelitian menyoroti urgensi perbaikan desain tata kelola implementasi MBG. Para Panelis menilai bahwa cakupan program yang bersifat universal saat ini terlalu ambisius, sehingga berpotensi menimbulkan risiko fiskal jangka panjang dan meningkatkan kompleksitas pengawasan.

Sebagai alternatif, panelis merekomendasikan restrukturisasi sasaran program secara bertahap dengan memprioritaskan siswa Sekolah Dasar (SD/MI), khususnya di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi (target geografis). Rekomendasi ini sejalan dengan usulan UNESCO yang menempatkan cakupan siswa sekolah dasar sebagai salah satu indikator dalam SDGs 4.

Selain itu, tujuan ekonomi dan penguatan pertanian lokal dinilai belum perlu menjadi prioritas utama karena berpotensi mengalihkan fokus serta menimbulkan kompromi terhadap kualitas gizi program.

“Dengan pendekatan ini, keadilan substantif tetap terjamin, sementara efektivitas dan keberlanjutan fiskal juga lebih terjaga,” ungkap Prof D.

Para panelis juga menekankan pentingnya penetapan standar gizi yang jelas serta peningkatan partisipasi masyarakat, baik melalui mekanisme daring maupun pengawasan independen oleh pihak ketiga. Seluruh aspek tersebut dinilai memerlukan landasan hukum setingkat Undang-Undang (UU) agar program MBG tidak sekadar menjadi komoditas politik jangka pendek, melainkan berkembang menjadi sistem perlindungan sosial yang berkelanjutan.

Regulasi tersebut diharapkan mencakup standarisasi dapur sehat, skema pendanaan yang tidak sepenuhnya membebani APBN, serta mekanisme pengawasan publik berbasis digital (crowd-based monitoring).

Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan adanya polarisasi pandangan pada sejumlah aspek, seperti alternatif model pembiayaan, desentralisasi bertahap, variasi modalitas layanan, model dapur, serta stabilitas rantai pasok. Perbedaan ini mencerminkan dilema antara idealisme pemenuhan hak warga negara dan realitas keterbatasan fiskal, kapasitas birokrasi daerah, serta aspek keamanan dan kualitas pangan.

Dengan demikian, keberhasilan implementasi program MBG sangat bergantung pada mitigasi risiko utama, serta potensi kebocoran anggaran dan keamanan pangan, integrasi rantai pasok dengan ekonomi lokal, serta penguatan landasan hukum.

“Untuk memperbaiki dan menjamin keberhasilan jangka panjang program MBG, saya merekomendasikan agar Presiden menetapkan landasan hukum yang kuat, standar gizi nasional, skema pendanaan berkelanjutan, serta integrasi dengan pangan lokal dan pengawasan digital,” ungkap Dr. W.

Sumber: Muhadjir M. Darwin

Editor: Asti Rahmaningrum

Foto:  Muhadjir M. Darwin

Tags: SDG 1: Tanpa Kemiskinan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 5: Kesetaraan Gender SDG 8. Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Recent Posts

  • Menggali Jejak Sejarah dan Memori Kolektif Melalui Seni Pertunjukan di Sekolah Pascasarjana UGM
  • Sekolah Pascasarjana UGM Gelar Syawalan 1447 H: Perkuat Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan
  • Tim Peneliti SPs UGM Kembangkan Baseplate Radioterapi Modular untuk Meningkatkan Performa Pelayanan Penanganan Pasien Kanker
  • Minim Regenerasi, Seni Ritual Srandul Sunti Hadapi Ancaman Kepunahan
  • Agar Tak Sekadar Komoditas Politik, Peneliti SPs UGM Tawarkan Strategi Baru Kelola Program MBG
Universitas Gadjah Mada
Sekolah Pascasarjana
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (0274) 544975, 564239
Email : sps@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju