Yogyakarta – Awan tebal yang selama ini membutakan satelit optik di langit tropis ternyata bukan akhir cerita. Dalam kuliah tamu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSDAL) yang digelar Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) pada Kamis, 1 Oktober 2026 menghadirkan narasumber dari Chiba University, Jepang yaitu Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, memperkenalkan radar sebagai jawabannya.
Lebih dari 100 peserta dari sejumlah institusi menyimak paparan Josaphat tentang penginderaan jauh berbasis synthetic aperture radar (SAR) yang disampaikan secara daring melalui zoom meeting. Prof Josaphat menunjukkan bagaimana teknologi itu bisa dipakai membaca tanda-tanda bencana dan perubahan lingkungan, bahkan sebelum kerusakan terjadi.
Prof Josaphat memulai dengan membedakan dua jenis sensor. Sensor optik, kata dia, bergantung pada sinar matahari. Tanpa cahaya atau tertutup awan, citranya buram. SAR bekerja sebaliknya: sensor aktif ini menembakkan gelombang mikro dari satelit, pesawat, atau drone, lalu merekam pantulannya menjadi gambar. Karena itu, SAR tetap bisa merekam permukaan bumi saat malam atau mendung, kemampuan yang krusial bagi Indonesia yang langitnya sering berselimut awan. Lewat analisis polarisasi, SAR bahkan dapat membaca sifat fisik objek, misalnya kemiringan batang pohon.
Guru besar itu lalu mengenalkan circularly polarized SAR (CP-SAR), teknologi garapan timnya di Chiba University, lengkap dengan antena rancangan sendiri. Perangkat ini pernah diuji terbang di Landasan Udara Adisutjipto, Yogyakarta, pada Agustus-September 2017. Hasilnya, citra CP-SAR tetap tajam ketika kamera optik tak bisa menembus awan.
Prof Josaphat kemudian menyampaikan sejumlah penerapan SAR di lapangan:
- Penurunan muka tanah dan sedimentasi pesisir Jakarta dipantau dari data SAR.
- Tanah yang terangkat akibat gempa Noto, Jepang, 1 Januari 2024, berhasil terdeteksi.
- Longsor di Cameron Highlands, Malaysia, dipetakan.
- Anomali deformasi gunung api terbaca; karya ini mengantar timnya menjuarai IEEE GRSS 2026 Data Fusion Contest di Washington DC, 9 Agustus 2026.
Dengan data seperti itu, menurut Josaphat, bencana semacam kebakaran hutan dan lahan sebetulnya bisa diperkirakan lebih dulu sehingga pencegahan dilakukan sebelum api menyebar.
Diskusi berlangsung hangat. Peserta bertanya soal kemampuan SAR mendeteksi tumpahan minyak, perlunya koreksi medan dengan DEM untuk area terbakar di daerah pegunungan, perkembangan InSAR dan satelit NISAR, pemakaian kecerdasan buatan pada citra radar, sampai cara memilih band yang cocok. Untuk soal terakhir, Josaphat menyarankan peneliti menetapkan objek kajian lebih dulu, baru menentukan citra dan band-nya.
Di penghujung sesi, ia menitip pesan kepada mahasiswa agar menulis buku karena karya itu akan terus hidup, sementara penghargaan cukup dianggap bonus. Ia juga mengajak peneliti Indonesia memperkuat kolaborasi dan saling menghargai. “Kita jangan punya konsep mengejar ketertinggalan, karena kita memang tidak tertinggal. Kejayaan suatu negara tidak bisa diwariskan, tetapi harus kita bangun dari sekarang,” katanya.
Lewat kuliah ini, mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan SPs UGM mendapat gambaran bagaimana penginderaan jauh dapat dipakai untuk mengelola sumber daya alam dan meredam dampak bencana. Kegiatan ini juga merupakan salah bentuk dari tindak lanjut kerja sama antara Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan Chiba University.
Penulis: Siti Muyasaroh



