
Program Studi Magister dan Doktor Kependudukan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) sukses menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum dengan tema “Ketahanan Demografi dalam Menghadapi Perubahan dan Tekanan Demografi” pada hari Kamis, 27 Agustus 2026, di Auditorium Merapi, Fakultas Geografi UGM. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai forum berbagi pengetahuan mengenai dinamika kependudukan serta strategi membangun ketahanan di tengah perubahan demografi yang tengah dihadapi Indonesia.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa sarjana Fakultas Geografi angkatan 2026 dan Program Studi Magister Kependudukan yang turut aktif berdiskusi mengenai perubahan demografi, pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, ketersediaan kesempatan kerja yang layak, serta penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi utama ketahanan demografi. Diskusi turut menyinggung konteks pembangunan Papua, yang dinilai memiliki karakteristik demografi, geografis, sosial, dan ekonomi berbeda sehingga memerlukan pendekatan kebijakan kependudukan yang tidak seragam dengan wilayah lain di Indonesia.
Materi disampaikan oleh Dr. Agus Joko Pitoyo, S.Si., M.A., selaku Ketua Program Studi Doktor Kependudukan yang memaparkan bahwa perubahan demografi merupakan bagian dari pembangunan dan dapat menjadi peluang maupun tekanan. Perubahan tersebut mencakup perubahan fertilitas, mortalitas, migrasi, struktur umur, persebaran penduduk, serta struktur keluarga. Perubahan tersebut dapat menjadi peluang apabila pemerintah dan masyarakat memiliki kemampuan untuk mengantisipasinya. Bonus demografi, misalnya, dapat menjadi modal pembangunan apabila penduduk usia produktif memiliki pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan kesempatan kerja yang memadai. Sebaliknya, apabila kualitas penduduk rendah dan kesempatan kerja terbatas, jumlah penduduk usia produktif yang besar justru dapat meningkatkan pengangguran dan beban sosial.
Salah satu tekanan yang penting adalah penurunan fertilitas dan penuaan penduduk. Beliau menjelaskan, apabila penurunan fertilitas berlangsung dalam jangka panjang, suatu wilayah bahkan berisiko mengalami population collapse, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk usia muda dan produktif terus mengecil sementara proporsi penduduk lanjut usia semakin besar. Berkurangnya usia produktif dan dan meningkatnya beban ketergantungan perubahan struktur keluarga seperti kecenderungan menikah pada usia lebih tinggi dan memiliki anak lebih sedikit turut memicu munculnya tekanan demografi (demographic pressure).
Pada akhirnya, demographic resilience memberikan perspektif bahwa pembangunan kependudukan harus dilakukan secara adaptif dan berkelanjutan. Kebijakan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan atau pengendalian jumlah penduduk, tetapi harus memperhatikan kualitas penduduk, struktur umur, ketahanan keluarga, mobilitas penduduk, kesempatan kerja, kesehatan, pendidikan, serta perlindungan sosial. Ketahanan demografi dibangun melalui kemampuan untuk mengantisipasi perubahan, beradaptasi terhadap tekanan, dan memastikan bahwa setiap perubahan demografi tetap dapat diarahkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.
Melalui kuliah umum ini, diharapkan mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai dinamika kependudukan serta strategi membangun ketahanan di tengah perubahan demografi yang tengah dihadapi Indonesia. Dengan demikian, perubahan demografi seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai ancaman. Perubahan tersebut dapat menjadi peluang apabila pemerintah dan masyarakat memiliki kemampuan untuk mengantisipasinya.
Penulis: Nabila Rizkia Nada
Editor: Siti Muyasaroh