Pengentasan kemiskinan melalui pendekatan berbasis riset menjadi salah satu isu utama yang mengemuka dalam audiensi antara delegasi Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H., di Kantor Bupati Belu pada Kamis (16/7). Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Cross Border Partnership (CBP) yang dilaksanakan SPs UGM di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Timor-Leste.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Belu menegaskan bahwa tantangan pembangunan di Kabupaten Belu tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pertanian, tetapi juga bagaimana hasil pertanian mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Menurutnya, sebagian besar masyarakat Belu menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Namun, mayoritas petani mengelola lahan dengan skala yang relatif kecil sehingga pendapatan yang diperoleh belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga secara optimal.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan keluarga menjadi pondasi penting dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Ketika kondisi ekonomi membaik, keluarga akan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi, pendidikan, serta kebutuhan pokok lainnya.
“Kami berharap penelitian yang dilakukan oleh SPs UGM mampu menghasilkan rekomendasi dan inovasi yang dapat membantu memperbaiki ekonomi keluarga masyarakat Belu. Ketika ekonomi masyarakat meningkat, mereka akan lebih mampu memenuhi kebutuhan gizi, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya,” ujar Willybrodus Lay.
Bupati Belu juga mengaitkan persoalan tersebut dengan penelitian yang dipaparkan oleh Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si. mengenai keterkaitan faktor kesehatan dan lingkungan terhadap stunting. Menurutnya, kajian mengenai stunting perlu dilihat secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi masyarakat, termasuk kepemilikan dan pengelolaan lahan pertanian yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat Belu.
Dalam diskusi tersebut, Willybrodus Lay turut membagikan hasil penelitian yang pernah dilakukannya mengenai penyebab kemiskinan di Kabupaten Belu. Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa gagal panen menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap meningkatnya angka kemiskinan di wilayah tersebut. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ia kemudian mengajak peserta audiensi untuk merefleksikan perubahan kondisi ekonomi masyarakat selama beberapa dekade terakhir.
“Sekitar tiga puluh tahun lalu, masyarakat masih dapat menyekolahkan anak hanya dengan menjual seekor sapi. Sekarang kondisinya berbeda. Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama adalah mengapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana perguruan tinggi dapat membantu menghadirkan solusinya,” ungkapnya.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, SPs UGM menyampaikan komitmennya untuk terus mengembangkan penelitian yang menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan daerah. Salah satunya melalui penelitian mengenai stunting, pengelolaan sumber daya air, serta berbagai kajian lain yang sedang dilaksanakan dalam program Cross Border Partnership.
Menutup audiensi, Bupati Belu mengajak SPs UGM untuk terus membangun kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Belu melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan di kawasan perbatasan. Ia berharap hasil-hasil penelitian yang dikembangkan tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu mendukung upaya penurunan angka kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Belu.
Penulis: Asti Rahmaningrum

