Yogyakarta – Program Studi Kajian Budaya dan Media (KBM) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Sesi dengan Praktisi bertajuk “Tenun Coffee Roasters: Membentuk Budaya Melalui Branding” pada Kamis (21/5) di Ruang Sidang A Lantai 5, Unit 1 Sekolah Pascasarjana UGM. Kegiatan ini menghadirkan Edrick Edsel Wijaya, praktisi sekaligus perwakilan dari Tenun Coffee Roasters, untuk berbagi pengalaman mengenai praktik branding dalam industri kopi dan kaitannya dengan pembentukan budaya.
Acara yang diikuti oleh mahasiswa mata kuliah Branding dan Budaya Promosi serta mahasiswa magister dan doktoral Kajian Budaya dan Media ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman praktis di lapangan. Melalui sesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa branding tidak hanya berfungsi sebagai strategi pemasaran, tetapi juga sebagai proses membangun makna, identitas, dan relasi dengan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Edrick menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah merek tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas produk, melainkan juga oleh kemampuan merek tersebut dalam membangun cerita dan pengalaman yang relevan bagi konsumennya. Melalui Tenun Coffee Roasters, ia menunjukkan bagaimana sebuah usaha kopi dapat mengembangkan identitas yang kuat dengan mengintegrasikan nilai, pengalaman, dan kedekatan dengan komunitas ke dalam strategi komunikasinya.
Diskusi menyoroti bagaimana branding berperan dalam membentuk budaya konsumsi sekaligus menciptakan komunitas di sekitar sebuah merek. Di era media digital yang semakin kompetitif, konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga terhubung dengan nilai, narasi, dan gaya hidup yang ditawarkan oleh suatu brand. Oleh karena itu, branding menjadi praktik budaya yang melibatkan proses produksi makna dan pembentukan identitas sosial.
Peserta tampak antusias mengikuti sesi yang berlangsung interaktif tersebut. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari strategi membangun loyalitas pelanggan, tantangan menjaga konsistensi identitas merek, hingga bagaimana sebuah bisnis dapat tetap relevan di tengah perubahan tren dan perilaku konsumen. Melalui dialog yang terbuka, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami dinamika industri kreatif dari sudut pandang pelaku usaha secara langsung.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Program Studi Kajian Budaya dan Media UGM untuk menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan aplikatif. Dengan menghadirkan praktisi dari berbagai sektor industri, mahasiswa didorong untuk melihat bagaimana konsep-konsep yang dipelajari di ruang kelas beroperasi dalam praktik profesional dan kehidupan sosial yang lebih luas.
Melalui sesi bersama Tenun Coffee Roasters ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan mengenai strategi branding, tetapi juga memahami bahwa sebuah merek dapat menjadi medium yang membentuk budaya, menciptakan relasi sosial, serta menghadirkan nilai-nilai yang bermakna bagi komunitas yang dilayaninya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa dalam memahami hubungan antara budaya, komunikasi, dan praktik bisnis di masyarakat kontemporer.
Penulis: Khoirul Mujazanah


