20 Mei 2026 Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan sekadar garis pinggiran di peta Indonesia. Dengan keberadaan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota’ain, Belu adalah beranda depan sekaligus etalase geopolitik dan geoekonomi strategis menghubungkan Republik Indonesia, Republik Demokratik Timor Leste, dan dunia.
Mengukuhkan posisi strategis tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pemerintah Kabupaten Belu resmi menggelar Focus Group Discussion (FGD) Crossborder Partnership (CBP) di Aula Betelalenok, Atambua, pada Rabu, 20 Mei 2026. Forum ini menjadi tonggak penting menyelaraskan arah pembangunan daerah, penelitian lintas negara oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam bingkai CBP dan program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) adalah program strategis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama LPDP, dan program pengabdian masyarakat di kawasan perbatasan, berupa Kuliah Kerja Nyata (KKN) berdimensi internasional.
FGD yang dilaksanakan secara hibrida ini adalah wujud nyata kolaborasi pentahelix yang melibatkan berbagai pihak. Diskusi hangat terjadi di antara Pemkab Belu yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Belu, Riene Bere Baria, ST, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kabupaten Belu, Fredrikus L. Bere Mau, ST, Muhammad Sulaiman, ST, MT, D.Eng., koordinator program EQUITY dan CBP UGM, Dr. Leonard Chrysostomos Epafras, dari UGM, sebagai peneliti EQUITY klaster Sosial-Humaniora (Soshum), Brigjen TNI Yudha Medy Dharma Zafrul, Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum, Fakultas Vokasi Logistik Militer (FVLM) Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan, Fasiha Putri Untsa, S.Ars., M.URP. dari Caritra Indonesia, wakil Satgas Perbatasan Timor Leste atau Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-RDTL, Dr. Manuel Vong selaku Direktur Program Doctor of Business Administration Dili Institute of Technology (DIT) dan Ketua Kagama Timor Leste, para pemangku kepentingan daerah seperti camat, kepala desa, dan wakil-wakil Organisasi Perangkat Daerah (OPD). FGD ini juga mendapat penguatan dari Direktur Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM) UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., yang meneguhkan kemitraan ini.
Pemilihan Kabupaten Belu sebagai lokasi pengabdian didasarkan pada potensi luar biasa yang berdampingan dengan tantangan krisis multidimensi. Di desa-desa perbatasan seperti Sadi, Tulakadi, dan Dualaus, tersimpan kekayaan alam dan sejarah yang menakjubkan. Mulai dari hamparan wanatani (agroforestry), pesona lembah “Asam Jokowi” dengan kebun bunga marigold, kerajinan tenun ikat pewarna alami, hingga situs prasejarah penemuan fosil Stegodon (gajah mini purba) sekitar 900.000 tahun.
Menjawab dinamika tersebut, UGM menghadirkan program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) “Halo Belu” 2.0 periode 2026 berkolaborasi dengan KKN Universitas Nusa Cendana, sebagai kelanjutan KKN Kolaborasi 2025. Program ini terintegrasi dengan penelitian EQUITY dari Kemdiktisaintek dan LPDP, serta inisiatif Crossborder Partnership (CBP) dari Sekolah Pascasarjana UGM, dan bekerjasama dengan LP2M Universitas Nusa Cendana.
Sebanyak 60 mahasiswa, terdiri dari 30 mahasiswa UGM dan 30 mahasiswa Undana, akan diterjunkan ke Desa Sadi, Tulakadi, dan Dualaus memperkuat eksplorasi potensi desa dan penguatan tata kelola pemerintahan.
Ketua Tim Penelitian sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UGM, Muhamad Sulaiman, menegaskan bahwa program ini dirancang memberikan dampak jangka panjang. “Yang lebih penting adalah adik-adik mahasiswa belajar tentang keindonesiaan, kolaborasi internasional, perdamaian di perbatasan, memahami kondisi riil di lapangan, dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di kampus.”
FGD dan KKN UGM ini mendukung Belu dalam bertransformasi. Garis batas negara tak lagi sekadar demarkasi keamanan militer, melainkan bergerak menjadi episentrum resiliensi lingkungan, titik temu budaya, dan motor penggerak ekonomi kawasan yang sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu Berkolaborasi, bergotong royong (No 17) mendorong inovasi (No 9) dan pendidikan (No 4) untuk mengelola alam dengan bijak (No 12), agar ekonomi warga tumbuh (No 8) dan terbebas dari kemiskinan (No 1).
Penulis: Leonard Chrysostomos Epafras
Editor: Arfika



