
Yogyakarta, 24 Februari 2026 — L-asparaginase merupakan enzim dari kelompok aminohidrolase yang memiliki aplikasi luas di bidang kesehatan dan industri pangan. Dalam dunia medis, enzim ini menjadi komponen penting dalam terapi Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) karena kemampuannya menurunkan kadar asparagin, asam amino yang dibutuhkan sel leukemia untuk bertahan hidup. Dengan berkurangnya asparagin, pertumbuhan sel kanker dapat ditekan secara signifikan.
Di sektor industri pangan, L-asparaginase dimanfaatkan untuk menghambat reaksi Maillard selama proses pemanasan. Penghambatan ini penting untuk menekan pembentukan akrilamida, senyawa karsinogenik yang kerap muncul pada produk pangan tinggi karbohidrat seperti keripik dan roti panggang.
Selama ini, L-asparaginase komersial umumnya diproduksi dari bakteri Gram negatif, seperti Escherichia coli dan Erwinia chrysanthemi. Namun, penggunaan jangka panjang atau dalam dosis tinggi dari sumber tersebut berpotensi menimbulkan efek imunologis, termasuk reaksi alergi hingga anafilaksis. Kondisi ini mendorong perlunya pengembangan kandidat enzim baru yang lebih aman, terutama dari bakteri Gram positif yang diketahui memiliki risiko imunogenisitas lebih rendah.
Penelitian yang diketuai oleh M. Saifur Rohman, S.P., M.Si., M.Eng., Ph.D., dari Program Studi Magister Bioteknologi, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) ini merupakan bagian dari Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM Tahun Anggaran 2025. Dalam penelitiannya, tim mengeksplorasi tiga bakteri Gram positif sebagai sumber alternatif L-asparaginase, yaitu Bacillus megaterium, Bacillus sp. T3, dan Planococcus sp. JS01. Ketiga bakteri ini dipilih berdasarkan karakter fisiologisnya yang mendukung produksi enzim ekstraseluler serta potensinya menghasilkan varian L-asparaginase dengan aktivitas tinggi dan toksisitas minimal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut memiliki aktivitas L-asparaginase yang kompetitif dibandingkan sumber konvensional. Selain itu, proses isolasi Open Reading Frame (ORF) yang mengkode enzim L-asparaginase dari masing-masing bakteri berhasil dilakukan. Capaian ini menjadi langkah krusial menuju produksi enzim rekombinan yang lebih aman dan berpotensi dikembangkan sebagai alternatif obat antikanker.
Pengembangan L-asparaginase dari bakteri Gram positif membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk menghasilkan produk farmasi inovatif sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku obat.
Penelitian ini berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan. Pada SDG 3 (Good Health and Well-being), riset ini mendukung peningkatan ketersediaan obat esensial yang lebih aman untuk terapi leukemia. Dalam konteks SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), pengembangan enzim rekombinan memperkuat kapasitas riset dan industri bioteknologi nasional. Selain itu, penelitian ini juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui potensi kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, industri farmasi, dan regulator dalam proses hilirisasi. Secara tidak langsung, inovasi ini turut berkontribusi pada SDG 1 (No Poverty) dan SDG 10 (Reduced Inequalities) dengan membuka peluang penurunan biaya terapi serta memperluas akses pengobatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sumber: M. Saifur Rohman
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: M. Saifur Rohman