Yogyakarta, 21/11/2025 — Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM menyelenggarakan kegiatan akademik bertajuk Women in STEM: Inspiring Pathways and Leadership pada Jumat, 21 November 2025 di Ruang Auditorium lantai 5, Sekolah Pascasarjana UGM.
Acara ini menghadirkan tiga pembicara dari dalam dan luar negeri, yaitu Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D dari Fakultas Kedokteran Gigi UGM, Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, dan Professor Kim Dale, Ph.D dari School of Life Sciences University of Dundee.
Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi ruang berbagi inspirasi sekaligus refleksi mendalam atas perjalanan perempuan dalam sains, teknologi, rekayasa, dan matematika, terutama dalam konteks kepemimpinan akademik dan riset global.
Sesi pertama disampaikan oleh Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D melalui presentasi berjudul “From Bench to Policy: A Case of Translational Research in Carbonate Apatite-Based Tissue Engineering and Regenerative Medicine”.
Prof. Ika memaparkan perjalanan panjang riset translasional dalam pengembangan carbonate apatite sebagai biomaterial untuk rekayasa jaringan dan pengobatan regeneratif. Ia menekankan pentingnya meniru struktur matriks ekstraseluler sebagai kunci keberhasilan regenerasi jaringan.
Melalui fokus tersebut, kelompok riset yang ia pimpin berhasil menghasilkan beragam produk biomaterial, seperti Gondrap dan spons regeneratif, yang kini telah digunakan dalam dunia medis nasional. Meski demikian, optimalisasi terus dilakukan sebelum dipasarkan secara lebih luas.
Prof. Ika menyoroti sejumlah tantangan klinis, terutama infeksi akibat lingkungan jaringan yang bersifat asam, batasan penggunaan antibiotik, serta kasus degradasi graft sebelum berfungsi. Untuk menjawab tantangan tersebut, timnya mengembangkan biomaterial dengan sifat antibakteri, baik melalui integrasi bubuk putih telur kaya enzim antimikroba maupun pelapisan nanopartikel, serta memperluas riset ke pengembangan adjuvan vaksin melalui rute mukosa.
Di akhir sesi, ia menekankan bahwa keberhasilan riset translasional menuntut kolaborasi lintas institusi, integritas, pengelolaan etika riset, serta keterhubungan dengan industri dan pemangku kebijakan.
Sesi kedua disampaikan oleh Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D dengan judul “Driving Scientific Excellence: Lessons from an Award-Winning Early-Career Women in STEM”. Dr. Rachma mengawali presentasi dengan pengalaman personal mengenai pentingnya karya ilmiah yang memberikan manfaat lintas generasi.
Ia menyoroti rendahnya jumlah peneliti di Indonesia dibandingkan negara maju dan menekankan pentingnya memperkuat budaya riset, publikasi, dan paten di kalangan mahasiswa doktoral serta dosen muda. Menurutnya, tantangan peneliti Indonesia tidak hanya terkait eksperimen, kebaruan topik, maupun fasilitas, tetapi juga mencakup manajemen waktu, relasi dengan pembimbing, dan kesehatan mental.
Dr. Rachma memberikan strategi praktis untuk meningkatkan produktivitas akademik, mulai dari pemetaan literatur melalui artikel review, penentuan target jurnal, hingga penyusunan tabel analisis sejak awal. Menurutnya, data yang tidak sesuai hipotesis bukanlah kegagalan, melainkan pintu menuju pemahaman ilmiah baru, dan ketangguhan ilmiah dibangun dari konsistensi, keberanian membaca peluang, serta kapasitas berjejaring.
Sesi ketiga oleh Prof. Kim Dale mengangkat tema “Empowering Women in STEM: Breaking Barriers in a Connected World”. Prof. Kim menyampaikan bahwa meskipun teknologi dan kolaborasi global berkembang pesat, akses perempuan dalam dunia sains belum setara.
Saat ini representasi perempuan di bidang STEM masih bervariasi di seluruh dunia, bahkan ada wilayah yang hanya mencapai sekitar 10% keterlibatan peneliti perempuan. Ia juga menyoroti bahwa perempuan hanya menduduki sekitar 12% posisi kepemimpinan ilmiah di tingkat global, sementara dana penelitian kesehatan perempuan hanya sekitar 8%.
Prof. Kim memaparkan perjalanan akademiknya dalam riset embriogenesis, khususnya mekanisme jalur sinyal Notch yang berperan dalam menentukan identitas sel dan relevan dalam patogenesis kanker seperti leukemia.
Ia menegaskan bahwa penyebab bertahannya ketimpangan pada level tinggi akademik adalah hambatan budaya, struktural, dan domestik yang dialami perempuan sepanjang kariernya. Prof. Kim juga menggarisbawahi perlunya ekosistem lembaga yang mendukung, mulai dari transparansi rekrutmen, pemerataan kesempatan riset, fasilitas ramah keluarga, hingga sistem mentoring dan jejaring profesi.
Menurutnya, teknologi digital dapat memperluas akses perempuan terhadap riset internasional melalui konferensi daring, laboratorium virtual, dan kolaborasi lintas jarak.
Melalui rangkaian sesi tersebut, acara ini menegaskan pentingnya membangun ruang kolaboratif yang lebih inklusif bagi ilmuwan perempuan dalam memperkuat kontribusi akademik dan inovasi di bidang STEM.
Acara ditutup dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab bersama peserta. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi dorongan nyata bagi munculnya lebih banyak pemimpin perempuan di bidang sains serta memperkuat komitmen institusi dalam menciptakan ekosistem akademik yang setara, berkelanjutan, dan mendukung perkembangan generasi ilmuwan masa depan.
Kegiatan ini juga selaras dengan penerapan SDGs Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, Nomor 5, Kesetaraan Gender, Nomor 17 Kemitraan untuk Mencapai tujuan.
Penulis : Ninda
Editor : Arni
