Yogyakarta, 11 November 2025 – Program Studi Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan perkuliahan tematik yang memantik kesadaran kritis mahasiswa. Pada sesi terbaru, mahasiswa berkesempatan mendalami isu “Kuratorial dan Editorial Adil Gender” langsung dari sosok inspiratif, Okky Madasari, sastrawan sekaligus sosiolog terkemuka Indonesia.
Okky Madasari, yang dikenal melalui karya-karyanya yang tajam tentang keadilan sosial dan kesetaraan gender, hadir untuk membuka mata mahasiswa tentang dimensi tersembunyi dalam praktik produksi wacana.
Menggugat Netralitas Ruang Redaksi dan Kuratorial
Dalam sesi yang interaktif, Okky menegaskan bahwa proses kuratorial dan editorial—baik di media massa maupun di ruang kebudayaan—tidak pernah netral.
“Siapa yang dipilih untuk tampil, narasi apa yang diangkat, hingga cara figur perempuan dan laki-laki digambarkan, semuanya adalah hasil dari proses seleksi dan keputusan yang sarat nilai serta kepentingan,” jelas Okky.
Pernyataan ini mendorong mahasiswa untuk menganalisis praktik yang selama ini dianggap objektif, padahal merupakan arena negosiasi kuasa dan kepentingan.
Keadilan Gender: Lebih dari Sekadar Angka
Perkuliahan ini berhasil membongkar kesadaran kritis mahasiswa bahwa upaya mewujudkan keadilan gender harus dimulai sejak tahap paling awal produksi wacana. Ini mencakup:
- Keputusan di ruang redaksi.
- Proses pemilihan topik.
- Penyusunan narasi.
- Kuratorial dalam pameran seni atau kebudayaan.
Okky menekankan bahwa keadilan gender bukan semata-mata soal representasi jumlah (kuantitas), melainkan yang jauh lebih esensial adalah ruang suara, sudut pandang, dan cara menceritakan realitas secara adil.
Kontribusi MPRK dalam Perdamaian Inklusif
Bagi mahasiswa MPRK, tema ini memperluas perspektif bahwa perjuangan menuju perdamaian dan keadilan sosial merupakan medan yang kompleks.
“Membangun kuratorial dan editorial yang adil gender adalah bagian krusial dari upaya kita menciptakan ruang publik yang lebih inklusif dan manusiawi,” ujar salah satu mahasiswa MPRK.
Melalui perkuliahan ini, mahasiswa semakin memahami bahwa upaya perdamaian tidak bisa dilepaskan dari bagaimana media dan budaya mengonstruksi makna tentang perempuan, laki-laki, dan identitas lainnya. Kesadaran ini membekali calon peacemaker dengan kemampuan untuk mengidentifikasi dan membongkar bias yang merusak struktur keadilan di masyarakat.
Penulis: Mariano Ombo
Editor: Burhanul Aqil