
Yogyakarta, 15 Januari 2026 — Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah mendisrupsi berbagai sektor, tidak terkecuali perpustakaan yang berkaitan erat dengan bidang Pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Pemilihan lingkup perguruan tinggi dinilai krusial karena kampus merupakan episentrum produksi pengetahuan dan inovasi. Dewasa ini, perpustakaan perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi dan referensi informasi, melainkan pusat manajemen pengetahuan berbasis data.
Kehadiran artificial intelligence menawarkan efisiensi dalam temu kembali informasi, manajemen koleksi, hingga layanan referensi virtual. Implikasi dari transformasi digital di dunia Pendidikan tinggi menjadikan Pustakawan akademik kini menghadapi tantangan terkait peningkatan kualitas keterampilan pustakawan untuk dapat mengelola big data penelitian dan menjaga integritas akademik di tengah maraknya penggunaan AI generatif oleh civitas akademika. Dalam rangka merespons fenomena ini, Tim Riset yang diketuai Milda Longgeita Pinem, S.Sos., MA, Ph.D. dari Minat Studi Manajemen Informasi dan Perpustakaan (MIP), Universitas Gadjah Mada (UGM), melakukan penelitian mendalam terkait literasi artificial intelligence di kalangan pustakawan perguruan tinggi di Indonesia.
Penelitian ini dilakukan pada tahun 2025 dan melibatkan survei dan wawancara mendalam dengan pustakawan dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Aspek yang dikaji meliputi pemahaman dasar konsep AI, penggunaan tools AI dalam pekerjaan sehari-hari, hingga persepsi terhadap bias algoritma, etika penggunaan AI dan privasi data.
“Kita harus akui, di lapangan masih ada gap kompetensi yang cukup lebar. Rekan-rekan pustakawan muda atau ‘digital native’ mungkin lebih cepat beradaptasi dengan tools AI, namun bagi generasi yang lebih senior, ini tantangan tersendiri. Belum lagi latar belakang pendidikan kami beragam; tidak semua punya basis IT yang kuat. Karena itu, pelatihan AI yang terstruktur bukan sekadar seminar sekilas sangat kami butuhkan agar tidak ada yang tertinggal.” Ungkap salah satu informan.
Hasil dari riset ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi penyusunan kurikulum pelatihan kepustakawanan nasional serta pengembangan modul pembelajaran seumur hidup bagi praktisi informasi. Dengan adanya penelitian terkait eksplorasi pada literasi artificial intelligence pustakawan perguruan tinggi di Indonesia , MIP UGM berharap dapat menjembatani kesenjangan digital dan mempersiapkan ekosistem perpustakaan Indonesia yang adaptif, cerdas, dan tetap humanis di tengah gempuran teknologi.
Penulis: Ade RS
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: DreaminaAI