
Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM terima kunjungan studi oleh Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga di auditorium Sekolah Pascasarjana pada Selasa (9/12). Kunjungan studi ini terdiri dari 90 peserta mahasiswa yang bertujuan untuk mempelajari disiplin ilmu mengenai perdamaian dan konflik sebagaimana yang diajarkan oleh MPRK. Sebagai informasi, UKSW sendiri memiliki program studi S1 Hubungan Internasional yang notabene-relevan dengan kajian ilmu di MPRK.
Pada kesempatan ini, MPRK UGM yang diwakili oleh Mohtar Masoed selaku ketua minat studi dan dipandu oleh Dody Wibowo selaku ketua penjamin mutu. Pada kesempatan tersebut, Mohtar memperkenalkan perkembangan ilmu HI dari sejarah kemunculannya. Salah satu arah perkembangan yang Mohtar jelaskan adalah munculnya keamanan non-tradisional akibat peristiwa Perang Dunia I dan II. Ia menjelaskan bahwa HI merupakan ilmu yang multi-disiplin, salah satunya dengan kajian perdamaian dan resolusi konflik, dengan diskursus keamanan manusia. Di mana aspek keamanan manusia menjadi unsur dari kajian perdamaian dan konflik.
“Permasalahan keamanan pada awalnya cenderung diselesaikan oleh militer, namun perkembangannya banyak aspek mengenai keamanan yang dapat dilakukan oleh non-militer. Sehingga unsur multi-disiplin ilmu HI untuk mengukur aspek hukum, ekonomi, sosial, melalui para mahasiswa HI” Ujar Mohtar.
Mohtar juga menjelaskan bahwa ilmu HI tidak hanya menghasilkan profil lulusan pada karir diplomat, namun pada level lain yang dapat berkaitan dengan keamanan manusia. Ia menilai, adanya kesamaan kurikulum pengajaran pada mata kuliah keamanan manusia dapat dikembangkan oleh UKSW bersama MPRK UGM sebagai potensi kerjasama yang dapat dikolaborasikan.
Dari perwakilan UKSW pada kesempatan tersebut diwakili oleh Kak Kris selaku dosen HI UKSW. Pada kesempatan tersebut Kak Kris menanggapi sambutan atas program kunjungan ini. Menurutnya, kegiatan kunjungan dengan kuliah umum ini mengajarkan kepada mahasiswa HI UKSW untuk dapat lebih jeli dan teliti dalam melihat permasalahan secara lebih dekat. Diskursus keamanan manusia, sebagaimana dihantarkan oleh Mohtar dapat mengasah kepekaan dan analisis terhadap permasalahan sekitar sebelum melihat permasalahan dari jauh (Internasional).
“Sebelum kita melihat masalah dari luar jauh sana (Internasional), ternyata ada permasalahan dari dekat yang bisa kita rasakan sendiri. Jadi diskursus tersebut sangat luarbiasa untuk mengasah kepekaan kita” Ujar Kris.
Pada kesempatan tersebut turut hadir Glory Prayoga selaku dosen HI UKSW yang merupakan alumni MPRK UGM. Menurutnya, kondisi keamanan manusia apabila diuraikan pada permasalahan di Kota Salatiga masuk ke dalam kategori kekerasan struktural. Seiring berjalannya tahun, terbentuk rasa penerimaan atas kondisi kekerasan struktural yang ada. “Secara umum kalau kita perhatikan dari segi ekonomi, lingkungan, dan kesehatan di kampung Pancoran masuk ke dalam kelompok rentan. Dan sudah menjadi persoalan yang bertahun-tahun sehingga sudah menjadi terbiasa (Kekerasan kultural)” Tutur Yoga.
Sesi tersebut kemudian ditutup oleh tanggapan dari Titik Firawati yang merupakan dosen MPRK UGM. Ia menuturkan bahwa pengertian aman dalam dimensi keamanan manusia dapat diuraikan melalui kasus di India pada tahun 1980an, di mana ketika pemerintah India membuka perekonomian yang menjadi awal mula rezim kapitalisme global. Hal tersebut memengaruhi tuntutan gaya hidup melalui mahar pernikahan. “Dalam konteks ini, aman dalam kajian perdamaian aman non-peperangan dapat membantu kita untuk memahami bagaimana definisi dan konsep aman itu dirasakan” Tutup Titik.
Penulis: Dimas Adi Nugroho
Editor: Burhanul Aqil