Yogyakarta, 23 Februari 2026– Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada (UGM) terus melakukan penyesuaian strategis guna meningkatkan mutu pendidikan dan capaian akreditasi internasional. Hal ini diwujudkan melalui “Workshop Pemantapan Perubahan Kurikulum SPs UGM TA 2026/2027” yang digelar di Ruang Auditorium Lantai 5, Gedung Unit 1 SPs UGM, pada Jumat (20/2).
Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pimpinan program studi (Prodi) di lingkungan SPs UGM ini membahas secara komprehensif penyesuaian beban studi, implementasi European Credit Transfer and Accumulation System (ECTS), serta strategi kelulusan tepat waktu bagi mahasiswa. Dekan SPs UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., secara resmi membuka acara sekaligus memberikan arahan strategis terkait pedoman perubahan kurikulum baru. Beliau menginstruksikan seluruh Kepala Program Studi (Kaprodi) untuk memetakan target masa studi dan penyesuaian beban Sistem Kredit Semester (SKS) yang selaras dengan visi global universitas.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Akademik SPs UGM, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr., menekankan bahwa penyesuaian ini merupakan respons proaktif SPs UGM terhadap dinamika peraturan nasional dan universitas yang telah dikawal sejak 2024. “Ada beberapa poin kebijakan penting dalam kurikulum baru ini. Di antaranya adalah penegasan diferensiasi kurikulum untuk jalur By Course dan By Research, serta implementasi perhitungan ECTS di mana 1 SKS disetarakan dengan 45 jam per semester guna mendukung akreditasi internasional,” papar Prof. Widyanto.
Ia juga menambahkan kebijakan terkait syarat perolehan nilai maksimal (A) pada tugas akhir, yang kini mewajibkan adanya publikasi atau diseminasi pada jurnal bereputasi. Selain itu, ditekankan pula hierarki beban studi yang proporsional, di mana program Doktor (S3) dirancang memiliki beban yang lebih besar dibandingkan program Magister (S2). Dalam dua sesi pemaparan prodi, terlihat komitmen penyesuaian menuju standar internasional. Mayoritas program Magister—seperti Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT), Magister Agama & Lintas Budaya, hingga Magister Kajian Budaya & Media—menyesuaikan beban studinya menjadi 54 SKS yang ekuivalen dengan rata-rata 97,2 ECTS.
Sementara itu, untuk program Doktor, beban studi dikalibrasi ulang untuk memastikan kedalaman riset dan proporsi teori yang tepat. Program Doktor Kependudukan, Ilmu Lingkungan, dan Perekonomian Islam & Industri Halal (PIIH) misalnya, memetakan kurikulum mereka di rentang 78 hingga 86 SKS yang mengonversi hingga lebih dari 130 ECTS. Diskusi lintas prodi pada paruh kedua workshop menghasilkan rumusan penting terkait panduan teknis bagi mahasiswa. Seluruh prodi di SPs UGM menyatakan komitmen kuatnya untuk mendorong mahasiswa lulus tepat waktu. Langkah konkret yang diambil antara lain dengan mengupayakan penentuan dosen pembimbing sejak awal semester dua, disusul dengan pelaksanaan seminar tesis paling lambat pada akhir semester dua atau awal semester tiga.
Sebagai rencana tindak lanjut, SPs UGM akan memfasilitasi fiksasi kurikulum lanjutan, termasuk sinkronisasi penyetaraan kurikulum antar prodi S2 seperti Teknik Biomedis dan Bioteknologi, serta pendetailan formulir penilaian tesis dan disertasi sesuai dengan amanat Peraturan Rektor UGM Nomor 23 Tahun 2024 dan Nomor 19 Tahun 2025. Program Fast Track S1-S2 dan S2-S3 juga dipastikan akan terus berjalan tanpa mengubah esensi kurikulum dasar yang ada.
Penulis: Berlian Belasuni



