Yogyakarta, 4 November 2025 – Konferensi internasional bergengsi, The 13th International Graduate Students and Scholars’ Conference in Indonesia (IGSSCI), resmi memulai rangkaian diskusi ilmiahnya. Sesi paralel hari pertama langsung menyuguhkan “menu” intelektual yang padat, di mana puluhan peneliti dan akademisi membedah tantangan paling mendesak di era modern. Mengusung tema besar “Navigating The Future: Strengthening Resilience Through Glocal Collaboration Towards World Peace“, para peserta dari berbagai institusi langsung menyelam ke topik-topik krusial. Dalam Sesi Paralel I (Parallel Session I) hari pertama ini, diskusi intensif yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 14.45 WIB terbagi dalam enam panel utama, masing-masing dengan fokus yang tajam dan relevan. Keenam panel tersebut mencakup “Cultural and Social Resilience” (Panel 1), “Digitalization, Technological Advancement, and Ethical Frameworks” (Panel 2), “Education as a Catalyst for Resilience” (Panel 3), “Energy Transition” (Panel 4), “Food Security and Agro-Resilience” (Panel 5), dan “Peacebuilding and Civic Collaboration” (Panel 6).
Di tengah gempuran isu sosial dan teknologi, dua penelitian dari UGM menawarkan perspektif menarik. Di Panel 1, Jamaludin (UGM) memaparkan temuan tentang “Relying on Social Capital: How Older Indonesians Perceive Financial Satisfaction in Later-life”. Studinya menyoroti bagaimana modal sosial—jaringan dan kepercayaan—menjadi faktor krusial bagi kepuasan finansial lansia di Indonesia. Sementara itu, di Panel 2 yang membahas digitalisasi, Ishadiyanto Salim (UGM) mengangkat topik “Agricultural Extension Workers’ Readiness for Digital Literacy…”. Penelitian ini mengulik kesiapan para penyuluh pertanian dalam mengadopsi teknologi digital, sebuah faktor kunci untuk modernisasi sektor agrikultur di masa depan. Resiliensi juga berarti membangun perdamaian dan keberlanjutan. Di Panel 3, Imanuel Geovasky (UGM) mempresentasikan analisis kuantitatifnya dalam “The Predictors of Tolerance…”. Studinya menguji dampak penting dari pendidikan damai terhadap peningkatan toleransi di kalangan mahasiswa.
Isu keberlanjutan planet dikupas tuntas di Panel 4, di mana Idang Prihantoro (UGM) mempresentasikan “National Energy Transformation, Challenges and Opportunities in Indonesia’s Shift from Fossil Fuels to Renewable-Based Electricity”. Paparan ini menggarisbawahi urgensi Indonesia dalam melakukan transisi energi. Di panel tentang ketahanan pangan (Panel 5), hadir perspektif unik dari Muhammad Nabil Pratama (UGM) melalui penelitian “Honeybees as Agro-Ecological Agents”. Studi ini mengeksplorasi peran fundamental lebah sebagai agen agro-ekologi dalam menghadapi krisis pangan global. Melengkapi diskusi, Panel 6 menyoroti pentingnya resiliensi budaya. Batari Oja Andini (UGM) mempresentasikan penelitiannya tentang “Cultural Identity Reproduction among Chinese-Indonesian in Temples”. Penelitian ini mengupas bagaimana identitas budaya Tionghoa-Indonesia terus direproduksi dan dilestarikan melalui praktik keagamaan di klenteng, sebagai bagian penting dari kohesi sosial.
Sesi paralel hari pertama IGSSCI ini membuktikan bahwa kolaborasi “glocal” (global dan lokal) yang diusung dalam tema bukanlah sekadar jargon. Diskusi intensif ini baru permulaan, mengingat konferensi akan berlanjut pada hari kedua yang juga akan diisi dengan sesi-sesi paralel tak kalah menarik. Diharapkan keseluruhan rangkaian diskusi ini akan melahirkan gagasan-gagasan konkret untuk masa depan.
Penulis : Berlian Belasuni





