Yogyakarta, 19 Feb 2026 — Pengukuhan Prof. Dr. Reni Rosari, M.B.A. sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Perilaku Organisasional di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM menjadi momentum reflektif sekaligus inspiratif bagi pengembangan kepemimpinan akademik di lingkungan Sekolah Pascasarjana UGM.
Dalam pidato berjudul “Rumongso Melu Handarbeni: Rasa Memiliki sebagai Fondasi Organisasi Berbasis Kebahagiaan dan Kolaborasi,” Prof. Reni menegaskan bahwa keberlanjutan organisasi modern tidak hanya ditopang oleh sistem dan struktur, tetapi oleh kedalaman rasa memiliki manusia di dalamnya.
Dari perspektif beliau sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) di Sekolah Pascasarjana UGM, gagasan tersebut bukan sekadar konseptual, melainkan menjadi fondasi praksis dalam pengelolaan program studi. Menurutnya, dinamika organisasi pendidikan tinggi saat ini bergerak dalam kompleksitas dan tekanan kinerja yang semakin tinggi. Di tengah tuntutan administrasi, akreditasi, serta capaian indikator performa, terdapat risiko hilangnya makna dan keterhubungan antarmanusia di dalam organisasi.
Sebagai Kaprodi, Prof. Reni memandang bahwa program studi adalah living system yang hanya akan bertumbuh ketika dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa merasa terhubung secara emosional dan moral. Ia mengangkat falsafah Jawa rumongso melu handarbeni sebagai nilai kepemimpinan yang relevan dalam tata kelola akademik: rasa memiliki bukan untuk menguasai, melainkan untuk menjaga dan merawat bersama.
“Rasa memiliki dalam konteks akademik berarti membangun kesadaran kolektif bahwa mutu program studi adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya pimpinan, tetapi seluruh sivitas,” tegasnya.
Dalam praktik kepemimpinannya, nilai tersebut diwujudkan melalui pendekatan kolaboratif—mendorong partisipasi aktif dosen dalam pengambilan keputusan, membuka ruang dialog, serta membangun budaya saling percaya. Relasi kerja tidak lagi bersifat transaksional, melainkan transformasional, dengan orientasi pada pertumbuhan bersama.
Prof. Reni juga menekankan bahwa kebahagiaan dan kinerja akademik bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Produktivitas justru lahir dari lingkungan yang menghargai kontribusi individu, memberikan ruang partisipasi, dan menumbuhkan keterikatan terhadap visi bersama. Program studi yang berjiwa, menurutnya, adalah program studi yang menumbuhkan, bukan sekadar menuntut; yang memerdekakan, bukan menekan.
Menutup refleksinya, ia mengutip ungkapan Jawa “Urip iku urup”—hidup adalah memberi nyala. Dalam konteks kepemimpinan akademik, ia meyakini bahwa program studi akan bertahan dan berkembang ketika mampu menyalakan makna bagi setiap insan di dalamnya.
Penulis: Arfikah Istari


