
Yogyakarta, 12 November 2025 – Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali membuka ruang diskursus akademis yang mendalam bagi para mahasiswanya. Melalui perkuliahan tematik bertajuk “Conflict: Fight or Flight?”, MPRK UGM menghadirkan Endah Setyowati, seorang akademisi dari Program Studi Humanitas sekaligus peneliti di Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Forum ini tidak sekadar menjadi kelas biasa, melainkan sebuah ruang reflektif untuk meninjau ulang bagaimana konflik dimaknai dalam berbagai dimensi, mulai dari sosial, budaya, hingga perspektif gender.
Dalam sesi pembukaannya, Endah Setyowati mengajak para mahasiswa untuk mendekonstruksi pandangan umum yang selama ini meletakkan konflik sebagai fenomena negatif yang harus dihindari. Ia menekankan bahwa dalam banyak konteks, respons terhadap konflik tidak harus selalu terjebak dalam biner fight (melawan) atau flight (lari). Sebaliknya, konflik justru dapat dimaknai sebagai kesempatan emas untuk belajar, mengembangkan diri, serta membuka ruang negosiasi. Lebih jauh lagi, konflik memiliki potensi besar sebagai pendorong terjadinya transformasi dan perubahan sosial yang mendasar jika dikelola dengan perspektif yang tepat.
Pembahasan kemudian bergerak lebih dalam dengan mengurai anatomi konflik itu sendiri. Endah memaparkan bahwa konflik jarang berdiri sendiri; ia kerap kali berakar pada kompleksitas ketimpangan distribusi sumber daya, relasi kekuasaan yang asimetris, hingga adanya kesenjangan informasi. Selain itu, nilai-nilai budaya yang melekat dalam struktur masyarakat turut memegang peranan penting dalam membentuk wajah konflik. Untuk mengonkretkan teori-teori tersebut, Endah menggunakan studi kasus dari konteks Tiongkok, mengajak peserta melihat bagaimana dinamika kekuasaan dan relasi sosial bekerja secara nyata dalam membentuk alur konflik serta penyelesaiannya.
Sesi ini kemudian bermuara pada urgensi manajemen konflik yang konstruktif. Endah mengingatkan bahwa tanpa pengelolaan yang tepat, sebuah konflik berisiko besar bereskalasi menjadi kekerasan terbuka atau memicu fragmentasi sosial yang dalam. Oleh karena itu, mahasiswa MPRK didorong untuk tidak hanya memahami konflik di permukaan, tetapi juga mengasah kemampuan analitis untuk mengenali akar persoalan yang terdalam. Hal ini mencakup kemampuan memetakan relasi antarpihak yang terlibat serta mengevaluasi strategi penyelesaian yang tidak hanya efektif, tetapi juga adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Penyelenggaraan kuliah tematik interdisipliner ini menegaskan komitmen MPRK UGM dalam menghadirkan pembelajaran yang melampaui batas-batas teori semata. Dengan melibatkan pakar lintas kampus dan disiplin ilmu, kegiatan ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak sekadar menjadi ahli teori konflik, melainkan praktisi perdamaian yang kompeten. Harapannya, para mahasiswa kelak mampu mengubah potensi destruktif konflik menjadi energi positif yang berkontribusi nyata pada pembangunan perdamaian yang berkeadilan, baik di tingkat lokal maupun global.
Penulis: Mariano Ombo
Editor: Burhanul Aqil