
Yogyakarta, 4 Februari 2026 — Perubahan iklim kini bukan lagi sekadar wacana ilmiah, melainkan realitas yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ketidakpastian pola curah hujan serta penurunan muka air tanah menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan hidup dan kesehatan masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin oleh Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., merilis hasil penelitian strategis pada tahun 2025 yang berfokus pada pengelolaan sumber daya air sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.
Penelitian bertajuk “Studi Pilihan dalam Memanfaatkan Air Tanah dan Memanen Air Hujan untuk Peningkatan Kesehatan dan Kesejahteraan terhadap Perubahan Iklim di Indonesia” ini mengkaji dua wilayah dengan karakteristik hidrologi yang berbeda namun menghadapi persoalan serupa, yakni Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Semarang. Selama ini, pengelolaan air di banyak daerah masih didominasi paradigma drainase yang memandang air hujan sebagai ancaman sehingga harus segera dialirkan ke sungai dan laut. Melalui penelitian ini, tim peneliti mendorong perubahan paradigma menuju pemanenan air hujan sebagai sumber daya strategis yang dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Pemanenan air hujan adalah solusi adaptif yang tidak hanya menjawab krisis air akibat perubahan iklim, tetapi juga memperkuat kesehatan, kesejahteraan, dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Prof. Agus Maryono. Menurutnya, air hujan seharusnya dipandang sebagai berkah, bukan musibah. Dengan penerapan teknologi tepat guna, air hujan dapat diolah menjadi sumber air bersih yang mendukung kesehatan masyarakat, mengurangi ketergantungan pada air tanah yang semakin dalam dan berkualitas rendah, serta dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk sanitasi dan peternakan.
Di Kabupaten Gunungkidul yang kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau, serta Kabupaten Semarang sebagai wilayah peri-urban dengan tekanan kebutuhan air yang tinggi, tim peneliti melakukan survei lapangan dan dialog partisipatif bersama pemerintah daerah serta kelompok masyarakat. Hasilnya menunjukkan tingginya antusiasme warga dalam mengadopsi teknologi pemanenan air hujan sebagai solusi nyata terhadap keterbatasan air. Selain meningkatkan ketersediaan air bersih, penerapan sistem ini juga berkontribusi pada peningkatan ketahanan masyarakat terhadap cuaca ekstrem. Pada musim hujan, air dapat ditampung untuk mengurangi limpasan dan risiko banjir, sementara pada musim kemarau cadangan air tetap tersedia. Pemanfaatan air hujan juga mampu menghemat konsumsi energi listrik, menurunkan emisi karbon, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif. Di lokasi penelitian Kabupaten Semarang, air hujan bahkan dimanfaatkan untuk mendukung sanitasi peternakan, sehingga berdampak langsung pada peningkatan kebersihan dan kesejahteraan masyarakat.
Laporan akhir hibah penelitian ini merekomendasikan agar model pemanenan air hujan berbasis komunitas dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari strategi menuju kemandirian air nasional. Tim peneliti yang terdiri atas Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, Muhammad Sulaiman, D.Eng., serta peneliti muda Adnin Musadri, Daniel Wolo, dan Pratama Tirza optimistis bahwa pendekatan ini tidak hanya relevan secara teknis, tetapi juga sejalan dengan upaya pencapaian pembangunan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Sumber: Agus Maryono
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: Agus Maryono