Yogyakarta, 15 Januari 2026 — Masyarakat Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan pekarangan rumah sebagai atraksi wisata pertanian (agrowisata). Dukungan tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh tim peneliti Program Magister Kajian Pariwisata, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM), pada 12 September 2025.
Penelitian ini dipimpin oleh Siti Nurul Rofiqo Irwan, S.P., M.Agr., Ph.D., dosen Magister Kajian Pariwisata SPs UGM, bersama Prof. Ir. Edhi Martono, M.Sc., Ph.D. (Doktor Kependudukan) dan Dr. Ir. Wiratno, M.Sc., IPU (Magister Kajian Pariwisata). Kajian ini merupakan bagian dari Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana UGM Tahun 2025.
Pada tahun 2024, Desa Wukirsari memperoleh penghargaan dari UNESCO–UNWTO sebagai desa wisata berkelanjutan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs). Pekarangan, sebagai warisan budaya dan wujud kearifan lokal bangsa Indonesia, merupakan lahan di sekitar rumah yang berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem permukiman, menyediakan sebagian kebutuhan pangan keluarga, serta menjadi identitas ruang tinggal masyarakat. Selain itu, pekarangan juga berperan sebagai habitat keanekaragaman hayati, sarana edukasi, dan ruang interaksi sosial antarwarga. Berbagai fungsi tersebut menjadikan pekarangan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata pertanian.
Penelitian ini merupakan kajian pariwisata multidisiplin yang mengintegrasikan perspektif ilmu pertanian dan pariwisata. Metode penelitian yang digunakan meliputi survei, observasi lapangan, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD). Tim peneliti menyebarkan lebih dari 100 kuesioner kepada masyarakat dan wisatawan, melakukan observasi terhadap 30 pekarangan, serta mewawancarai tokoh masyarakat, pelaku batik, pemerintah daerah, dan dinas terkait.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh masyarakat Desa Wukirsari telah memanfaatkan pekarangan, meskipun sebagian di antaranya (43 persen) belum dikelola secara terencana. Baik masyarakat desa maupun wisatawan menyatakan persetujuan yang tinggi terhadap pengembangan pekarangan sebagai atraksi agrowisata berbasis SDGs, dengan skor masing-masing 4,1 dan 4,5 pada skala 1–5.
Ketua peneliti, Siti Nurul Rofiqo Irwan, menegaskan bahwa pengembangan pekarangan tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga pada ketahanan sosial dan lingkungan desa.
“Pekarangan memiliki nilai strategis karena menyatukan aspek ekologi, ekonomi, dan budaya dalam kehidupan masyarakat desa. Jika dikelola secara terencana dan berkelanjutan, pekarangan tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga sarana edukasi, penguatan identitas lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Pekarangan dinilai berpotensi menjadi sarana edukasi budidaya tanaman pangan, habitat keanekaragaman hayati, serta sumber tanaman pewarna alami untuk produksi batik, yang merupakan ciri khas Desa Wukirsari. Oleh karena itu, pendampingan serta keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pekarangan perlu terus ditindaklanjuti.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendorong Desa Wukirsari sebagai desa wisata berbasis SDGs, sekaligus memperluas kontribusi akademik Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Sumber: Siti Nurul Rofiqo
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: Siti Nurul Rofiqo

